Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Berpotensi Melemah

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder berpotensi melemah hari ini, Senin (24/9/2018).
Emanuel B. Caesario | 24 September 2018 09:22 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder berpotensi melemah hari ini, Senin (24/9/2018).

Dhian Karyantono Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Indonesia potensi pelemahan ini terutama  didorong oleh proyeksi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pasca-data PMI Manufaktur AS yang  dirilis lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pasar.

Selain itu, adanya lelang esok hari juga berpotensi menambah dorongan penurunan harga SUN.  "Investor disarankan untuk wait and see pada awal pekan ini untuk kemudian berpartisipasi dalam lelang SUN esok hari," katanya dalam riset harian, Senin (24/9/2018).

Berikut ini proyeksi pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023):  90,50 (8,12%) -  90,80  (8,04%)
FR0064 (15 Mei 2028):  86,05 (8,25%) -  86.70  (8,14%)
FR0065 (15 Mei 2033):  84,45 (8,50%) -  85,20  (8,40%)
FR0075 (15 Mei 2038):  88,00 (8,79%) -  89,00  (8,67%).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak pada kisaran Rp14.815 – Rp14.862 dengan potensi melemah. Adapun, pada perdagangan Jumat pekan lalu, harga SUN menunjukkan peningkatan.

Meredanya tekanan dari sentimen negatif perang dagang nampaknya menjadi pendorong utama kenaikan harga SUN secara umum di pasar sekunder pada pekan lalu. 

Meredanya sentimen perang dagang mendorong apresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 0,22% ke level Rp14. 817 pada jumat pekan lalu yang pada akhirnya mendorong penguatan harga SUN di pasar sekunder sekaligus melanjutkan tren kenaikan harga selama empat hari berturut-turut. 

Rata-rata kenaikan harga SUN tenor pendek mencapai 15,51 bps sementara untuk kategori tenor menengah dan panjang mengalami rata-rata kenaikan masing-masing sebesar 67,91 bps dan 83,97 bps. 

Dengan demikian, yield SUN secara umum menurun dan khusus benchmark 10 tahun turun ke level  8,10% dibandingkan hari sebelumnya di level 8,19%. 

Momen kenaikan harga SUN juga diikuti oleh kenaikan nominal dan frekuensi transaksi obligasi pemerintah di pasar sekunder dibandingkan dengan hari sebelumnya di mana SUN seri tenor panjang, FR0072, mendominasi kedua kategori tersebut.

Pada perdagangan pasar global, yield US Treasury 10 tahun stagnan dan indeks dolar AS meningkat. 

Rilis data awal (flash) Markit PMI Manufaktur AS per September 2018 yang meningkat ke level 55,6 poin dibandingkan dengan konsensus pasar sebesar 55 poin mendorong kenaikan indeks dolar AS ke level 94,22 poin dibandingkan dengan hari sebelumnya di level 94,00; selain juga dipicu oleh depresiasi poundsterling setelah perkembangan dari Brexit tidak sesuai dengan harapan pasar. 

Selain itu, meningkatnya PMI Manufaktur AS juga menyebabkan yield US Treasury tenor khususnya tenor 10 tahun cenderung stagnan di level 3,06% dan juga seiring antisipasi pasar jelang pertemuan FOMC minggu ini. 

Tag : Obligasi, sun
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top