MNC Sekuritas: SUN Masih Bergerak Terbatas

MNC Sekuritas memperkirakan  harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari ini, Senin (27/8/2018) masih cenderung bergerak terbatas.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  09:28 WIB
MNC Sekuritas: SUN Masih Bergerak Terbatas
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com,  JAKARTA- MNC Sekuritas memperkirakan  harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari ini, Senin (27/8/2018) masih cenderung bergerak terbatas.

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa kecenderungan tersebut merupakan respon atas pernyataan dari Gubernur Bank Sentral Amerika yang menyatakan bahwa The FED masih akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuan secara bertahap seiring dengan perbaikan ekonomi yang terjadi di Amerika.

Made mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat masih akan menjadi faktor yang akan memengaruhi perdagangan SUN pada sepekan ke depan di tengah minimnya katalis dari dalam negeri.

Adapun dari faktor eskternal, investor akan mencermati data ekonomi Amerika yang akan disampaikan pada pekan ini, di antaranya data GDP kuartal II 2018 (revisi) maupun data pendapatan dan belanja rumah tangga di Amerika.

Adapun secara teknikal, harga SUN dalam jangka panjang masih berada dalam tren penurunan, meskipun dalam jangka pendek masih berada pada area konsolidasi.

"Sehingga kami perkirakan pada perdagangan hari ini masih akan kembali bergerak pada kisaran harga yang terbatas," katanya dalam riset harian, Senin (27/7/2018).

Dengan mempertimbangan beberapa faktor tersebut, Made sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga SUN dengan memperhatikan arah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

"Di tengah pergerakan harga SUN yang masih terbatas, adanya koreksi harga merupakan peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap, mengingat dengan tingkat imbal hasil saat ini serta laju inflasi yang masih terkendali, kami melihat bahwa instrumen surat utang masih memberikan imbal hasil yang menarik," katanya.

"Beberapa seri yang kami rekomendasikan diantaranya adalah sebagai berikut : FR0036, FR0071, FR0058, FR0074, FR0068, FR0072 dan FR0075," lanjutnya.

Pada sepekan ke depan terdapat satu surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp389 miliar yang akan menambah likuiditas di pasar.

Review Perdagangan Sebelumnya

Adapun pada perdagangan Jumat (24/8/2018) pekan lalu, imbal hasil Surat Utang Negara bergerak terbatas dengan arah pergerakan imbal hasil yang cukup bervariasi pada keseluruhan tenor.

Perubahan imbal hasil berkisar antara 1 - 8 bps dengan kecenderungan mengalami penurunan untuk Surat Utang Negara bertenor panjang.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek terlihat mengalami kenaikan berkisar antara 1 - 5 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 15 bps.

Adapun imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan tenor menengah cenderung mengalami penurunan hingga sebesar 5 bps yang didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 5 - 30 bps.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang cenderung mengalami penurunan berkisar 2 - 8 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 5 - 55 bps.

Cukup bervariasinya perdagangan Surat Utang Negara pada perdagangan di akhir pekan kemarin dipengaruhi oleh kembali melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika serta pada saat yang sama terlihat pembelian Surat Utang Negara dengan tenor menengah hingga panjang oleh investor di tengah cukup menariknya tingkat imbal hasil Surat Utang Negara.

Dalam sepekan terakhir, investor terlihat terus melakukan akumulasi pembelian Surat Utang Negara, terutama oleh investor asing, di mana hingga 23 Agustus 2018, investor asing mencatatkan pembelian bersih Surat Berharga Negara senilai Rp8,11 triliun di sepanjang bulan Agustus 2018.

Akumulasi pembelian oleh investor asing tersebut tidak lepas dari faktor melandainya imbal hasil US Treasury yang mengalami penurunan sebesar 11 bps dalam sebulan terakhir.

Hanya saja kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan di akhir pekan dibatasi oleh faktor pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang kembali bergerak mendekati level 14700 per Dollar Amerika.

Secara keseluruhan, pergerakan harga Surat Utang Negara pada akhir pekan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan untuk tenor 5 tahun, 10 tahun dan 20 tahun masing - masing sebesar 5 bps, 4 bps dan 1 bps di level 7,74%, 7,89% dan 8,36%.

Adapun imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan tenor 15 tahun mengalami penurunan sebesar 7 bps di level 8,07%.

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya juga terbatas dengan kecenderungan mengalami penurunan pada keseluruhan tenor.

Imbal hasil dari INDO23 dan INDO28 mengalami penurunan imbal hasil sebesar 1 bps masing - masing di level 3,95% dan 4,29% dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 5 bps.

Adapun imbal hasil dari INDO48 terlihat mengalami sedikit kenaikan di level 4,74% setelah mengalami penurunan harga sebesar 5 bps.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp19,79 triliun dari 37 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan Surat Utang Negara seri acuan mencapai Rp12,40 triliun.

Obligasi Negara seri FR0075 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, yaitu senilai Rp10,36 triliun dari 72 kali transaksi dengan harga rata - rata sebesar 91,85% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0053 senilai Rp1,65 triliun dari 40 kali transaksi di harga rata - rata 102,22%.

Adapun perdagangan Sukuk Negara pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp226,33 miliar dari 7 seri Sukuk Negara yang diperdagangkan.

Project Based Sukuk seri PBS012 dan PBS016 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, dengan masing - masing seri senilai Rp70 miliar di harga rata - rata 102,33% untuk seri PBS012 dan di harga rata - rata 98,41% untuk seri PBS016.

Pada perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp893,42 miliar dari 52 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap V Tahun 2018 Seri A (SMFP04ACN5) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp348 miliar dari 19 kali transaksi di harga rata - rata 100,00% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank Panin Tahap III Tahun 2018 (PNBN02CN3) senilai Rp110 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 95,43%.

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan di akhir pekan ditutup melemah sebesar 11 pts (0,08%) di level 14648,50 per Dollar Amerika setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14648,50 hingga 14662,00 per Dollar Amerika.

Dengan pelemahan tersebut, di tahun 2018 nilai tukar rupiah telah mengalami pelemahan sebesar 8,07% terhadap Dollar Amerika.

Pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan di akhir pekan kemarin terjadi di saat mata uang regional yang cenderung mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika.

Mata uang Yuan China (CNY) memimpin penguatan mata uang regioan terhadap Dollar Amerika dan diikuti oleh mata uang Dollar Singapura (SGD) dan Won Korea Selatan (KRW). Adapun yang mengalami pelemahan, selain Rupiah, juga didapati pada Yen Jepang (JPY) dan Ringgit Malaysia (MYR).

Sementara itu dari perdagangan surat utang global, imbal hasil surat utang global cenderung mengalami kenaikan, dengan imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup pada level 2,82% dan tenor 30 tahun pada level 2,97%.

Adapun imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun ditutup naik pada level 0,35% begitu pula surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor yang sama ditutup naik pada level 1,279%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top