Rekomendasi Obligasi: Pasar Tertekan Pelemahan Kurs

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan yield surat utang negara atau SUN hari ini, Jumat (24/8/2018) akan meningkat (harga SUN turun) didorong oleh proyeksi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 24 Agustus 2018  |  09:25 WIB
Rekomendasi Obligasi: Pasar Tertekan Pelemahan Kurs
obligasi

Bisnis.com,  JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan yield surat utang negara atau SUN hari ini, Jumat (24/8/2018) akan meningkat (harga SUN turun) didorong oleh proyeksi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh meningkatnya eksternalitas negatif global dan sentimen jelang lelang SUN pekan depan serta menunggu pernyataan Jerome Powell dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole.

"Meski demikian, kenaikan yield SUN berpotensi dibatasi oleh intervensi Bank Indonesia di pasar sekunder obligasi maupun pasar valas," katanya dalam riset harian, Jumat (24/8/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini: 

FR0063 (15 Mei 2023):  91,60 (7,78%) -  92,00  (7,67%)
FR0064 (15 Mei 2028):  87,85 (7,94%) -  88,25  (7,88%)
FR0065 (15 Mei 2033):  86,30 (8,25%) -  86,90  (8,17%)
FR0075 (15 Mei 2038):  91,00 (8,44%) -  91,60  (8,38%).

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan melemah pada rentang Rp14.635 – Rp14.680.

Dhian mengatakan, pada perdagangan kemarin, interpretasi hawkish FOMC Minutes oleh pasar dan kembali meningkatnya isu terkait perang dagang mendorong harga SUN secara umum menurun.

 Harga SUN secara umum pada perdagangan terakhir di pasar sekunder mengalami penurunan di mana rata-rata penurunan harga pada SUN tenor pendek adalah sebesar 6,80 bps sementara untuk SUN tenor menengah dan panjang masing-masing mengalami penurunan harga sebesar 18,83 bps dan 49,57 bps.

Seiring dengan pergerakannya yang berlawanan dengan harga, yield SUN secara umum meningkat di mana yield SUN khususnya tenor benchmark 10 tahun meningkat ke level 7,85% (sebelumnya 7,80%).

Turunnya harga SUN (kenaikan yield SUN) pada perdagangan terakhir didorong oleh interpretasi pasar bahwa rilis risalah pertemuan FOMC (FOMC Minutes) memberikan sentimen hawkish dan ditambah oleh kembali meningkatnya ketidakpastian global sebagai akibat isu perang dagang setelah AS dan Tiongkok kembali melakukan aksi saling balas terkait penetapan tarif impor.

Kedua sentimen utama tersebut menyebabkan nilai tukar rupiah melemah signifikan sebesar 0,34% ke level Rp14.630 atau depresiasi terbesar dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

Seiring turunnya harga SUN pada perdagangan terakhir, frekuensi transaksi obligasi pemerintah cenderung turun dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya meski secara nominal transaksi sedikit meningkat.

Sementara itu, pada perdagangan global (Asia semalam),   sentimen negatif cenderung meningkat setelah baik AS dan Tiongkok saling menetapkan kebijakan tarif impor sebesar 25% untuk produk impor kedua negara masing-masing senilai $16 miliar.

Kebijakan tersebut juga sekaligus mengurangi harapan pasar terhadap hasil positif dari pertemuan kedua negara terkait pembahasan isu perang dagang.

Sementara itu, rilis data tenaga kerja AS yaitu klaim tunjangan pengangguran awal (initial jobless claims) di luar ekspektasi pasar turun menjadi sebesar 210 ribu klaim dibandingkan dengan minggu sebelumnya sebesar 212 ribu klaim.

Kedua isu tersebut mendorong dolar AS kembali menguat terhadap peersnya, yang tercermin dari kenaikan indeks dolar AS ke level sekitar 95,66 poin (sebelumnya kisaran 95,10 – 95,50 poin).

Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun cenderung stagnan di level 2,83% di mana meningkatnya isu perang dagang menjaga minat investor terhadap aset safe haven sekaligus mengurangi dampak dorongan kenaikan yield dari rilis tenaga kerja AS.

Dari Kawasan Euro, rilis ECB Minutes menunjukkan poin-poin yang cenderung dovish di mana program quantitative easing ECB masih akan dilakukan hingga akhir tahun ini dan mempertahankan level suku bunga saat ini (0%) hingga musim panas 2019. 

Berikut ini posisi imbal hasil dan harga seri-seri acuan SUN dan obligasi global kemarin:
      
PRICE OF INDONESIA GOVERNMENT BONDS
FR0063: -19,40             bps to 91,90 (7,70%)
FR0064: -30,30             bps to 88,39 (7,85%)
FR0065: +9,60              bps to 87,06 (8,15%)
FR0075: -30,40             bps to 91,75 (8,36%)

-YIELD OF GLOBAL BONDS-
UST 2yr:    +0,025     point to 2,62%
UST 5yr:    +0,018     point to 2,72%
UST 10yr:  +0,007     point to 2,83%
UST 30yr:  -0,004     point to 2,98%
German Bund 10yr: -0,004 point to 0,34%
UK Gilt 10yr: -0,004  point to 1,27%

-CDS OF INDONESIA BONDS-
CDS 2yr:  +1,30%    to  45,82
CDS 5yr:   +0,47%    to 120,46
CDS 10yr: +1,05%    to 204,04

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top