Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Terkoreksi Tajam, Saatnya Membeli  Saham

Koreksi tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini seharusnya menjadi momentum bagi investor, terutama domestik, untuk masuk ke pasar, daripada ikut-ikutan aksi investor asing yang panik melepas portofolionya.
Tim Bisnis Indonesia
Tim Bisnis Indonesia - Bisnis.com 14 Agustus 2018  |  12:05 WIB
IHSG Terkoreksi Tajam, Saatnya Membeli  Saham
Pergerakan IHSG selama 1 hingga 13 Agustus 2018. - Bisnis/Radityo Eko
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Koreksi tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini seharusnya menjadi momentum bagi investor, terutama domestik, untuk masuk ke pasar, daripada ikut-ikutan aksi investor asing yang panik melepas portofolionya.

Kinerja IHSG menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (14/8/2018). Berikut Laporannya.

Kemarin, IHSG dan rupiah kompak melemah merespons krisis ekonomi Turki. IHSG terkoreksi 3,55% dan ditutup pada level 5.861,24. Padahal, sejak awal Agustus, IHSG selalu konsisten di atas 6.000, bahkan sempat menembus 6.100 pada Senin (6/8/2018) pekan lalu, meski tidak bertahan lama.

Investor asing mencatatkan jual bersih senilai Rp646,88 miliar, terbesar sepanjang bulan ini. Di pasar obligasi, kondisinya pun sama. Imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun melonjak hingga mencapai 7,90% setelah bergerak pada rentang 7,71%–7,90%. Padahal, sehari sebelumnya ditutup pada level 7,676%.

Pada saat yang sama, kurs rupiah melemah 0,90% ke level Rp14.608 per dolar AS, terendah sepanjang 2018, bahkan terendah sejak 1 Oktober 2015.

Rupiah menjadi mata uang paling anjlok kedua setelah India yang turun 1,00 poin atau 1,43% menjadi 69,83 per dolar AS dengan pelemahan 8,54% ytd.

Thendra Chrisnanda, Kepala Riset Institusi MNC Sekuritas, mengatakan bahwa ada kekhawatiran krisis Turki berpotensi menjadi titik awal bagi krisis di negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia.

Namun, Thendra menilai kekhawatiran tersebut cukup berlebihan sebab kondisi fundamental Turki dan Indonesia berbeda. Sebagai gambaran, suku bunga acuan Turki mencapai 17,5%, sedangkan Indonesia hanya 5,25%.

Tingkat inflasi Turki mencapai sekitar 16%, sedangkan Indonesia masih sesuai target di kisaran 3,5% ±1%. Lagi pula, Indonesia tidak memiliki exposure perdagangan yang signifikan terhadap Turki.

“Kami meyakini bahwa respons negatif atas krisis Turki saat ini bersifat sementara di mana investor akan kembali mencermati kondisi fundamental Indonesia sendiri,” katanya, Senin (13/8/2018).

Jason Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa secara psikologis krisis finansial Turki akan berdampak negatif bagi semua negara emerging market. Apalagi, negara-negara berkembang dengan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), termasuk Indonesia yang pada kuartal II/2018 mencatat peningkatan CAD menjadi US$8 miliar atau 3% dari GDP. “Namun, efek krisis finansial Turki bersifat sementara.”

Baik Thendra maupun Jason sepakat kini saat yang tepat untuk akumulasi beli saham-saham bluechip yang telah terkoreksi, seperti ASII, BBRI, TLKM, dan HMSP.

Valdy Kurniawan, analis Phintraco Sekuritas, mengatakan bahwa krisis Turki, pelemahan IHSG di awal perdagangan, dan turunnya rupiah memicu aksi panic selling di semua sektor, terutama sektor keuangan.

Yuliana, analis Riset Profindo Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa support kuat bagi IHSG saat ini berada di posisi 5.840, sehingga peluang penurunan IHSG hingga level tersebut masih terbuka.

“Namun, menurut saya, ini bisa buy on weakness karena seharusnya krisis Turki tidak akan berpengaruh signifikan terhadap fundamental Indonesia. BI juga sepertinya akan menaikkan suku bunga pada tanggal 14-15 Agustus nanti,” katanya.

Anil Kumar, Fixed Income Analyst Ashmore Asset Management Indonesia, menilai, koreksi yang terlalu besar di Indonesia menunjukkan pasar terlalu berlebihan menilai situasi yang terjadi. Selain itu, pelemahan juga disebabkan karena adanya aksi profit taking setelah adanya penguatan pasar beberapa hari belakangan ini.

Terkait dengan pergerakan rupiah, Kepala Bidang Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai ada kekhawatiran pasar akan krisis di Turki, sehingga pelaku pasar melarikan asetnya ke aset yang aman. “Tidak hanya rupiah yang melemah, tetapi juga seluruh mata uang emerging market.”

POSISI WASPADA

Selain faktor Turki, pelemahan rupiah juga ikut tersengat sentimen pelebaran defisit CAD dalam negeri.

Pemerintah terus mewaspadai kondisi CAD saat ini. Baik Menko Perekonomian Darmin Nasution maupun Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan segala upaya telah disiapkan untuk menjaga defisit transaksi berjalan agar tidak semakin melebar. “Kalau sampai 3%, pemerintah harus menyiapkan langkah membuat dia turun ke bawah,” ujar Darmin.

Adapun, Menkeu mengatakan defisit hingga 3% masih lebih baik dari kondisi tapper tantrum pada 2015 yang di atas 4%. “Namun, kita perlu tetap hati-hati karena lingkungan yang kita hadapi sangat berbeda dengan 2015.”

Sementara itu, pelemahan rupiah ke level Rp14.600 dinilai semakin memperkuat rekomendasi agar rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya.

“Saya setuju jika BI menaikkan lagi 7DRR menjadi 5,5% untuk mencegah depresiasi lanjutan,” ujar Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono. (Emanuel B. Caesario/Tegar Arief/Mutiara Nabila/Rinaldi Mohammad Azka/Puput Ady Sukarno)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : Sutarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top