Rekomendasi Obligasi: Harga SUN Akan Cenderung Turun

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa hari ini, Jumat (27/7/2018) yield surat utang negara atau SUN secara umum diperkirakan meningkat (harga SUN menurun) di tengah kenaikan yield global jelang rilis data PDB AS kuartal II-2018.
Emanuel B. Caesario | 27 Juli 2018 10:19 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA- Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa hari ini, Jumat (27/7/2018) yield surat utang negara atau SUN secara umum diperkirakan meningkat (harga SUN menurun) di tengah kenaikan yield global jelang rilis data PDB AS kuartal II-2018.

"Selain itu, kenaikan yield SUN pada hari ini juga didorong oleh proyeksi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, dalam riset harian, Jumat (27/7/2018).

Berikut proyeksi imbal hasil dan harga seri-seri acuan SUN hari ini [harga(yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023): 91,70 (7,72%) - 92,15 (7,60%)
FR0064 (15 Mei 2028): 88,45 (7,83%) - 89,20 (7,71%)
FR0065 (15 Mei 2033): 87,25 (8,12%) - 87,60 (8,07%)
FR0075 (15 Mei 2038): 93,05 (8,22%) - 93,60 (8,16%)

USD/IDR berpotensi melemah pada rentang Rp14.465 – Rp14.526.

Adapun, pada perdagangan kemarin, harga SUN secara umum cenderung menguat terbatas di mana harga SUN tenor pendek secara rata-rata meningkat sebesar 5,17 bps sedangkan SUN tenor menengah dan panjang secara rata-rata mengalami peningkatan harga masing-masing sebesar 10,83 bps dan 75,49 bps.

Kenaikan harga SUN didorong oleh cenderung menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama perdagangan kemarin meski pada akhirnya ditutup cenderung stagnan (berdasarkan Bloomberg spot) di level Rp14.460 dibandingkan hari sebelumnya.

Meski demikian, sentimen positif dari apresiasi rupiah cenderung dibatasi oleh meningkatnya yield US Treasury di tengah meredanya kekhawatiran terkait perang dagang pasca pertemuan antara Presiden Komisi Eropa dengan Trump yang menghasilkan kesepakatan positif sehingga mendorong investor meninggalkan aset safe haven mereka seperti US Treasury maupun dolar AS.

Sementara itu, yield benchmark tenor 10 tahun turun ke level 7,70% sekaligus melanjutkan tren penurunan yield pada minggu ini.

Kenaikan terbatas harga SUN juga membatasi nominal transaksi maupun frekuensi obligasi pemerintah di mana dalam perdagangan sekunder kemarin berdasarkan nominal transaksi lebih didominasi oleh SUN tenor pendek dan menengah.

Di pasar global, jelang rilis data PDB AS, yield US Treasury dan indeks dolar AS cenderung meningkat.

Yield US Treasury 10 tahun pada perdagangan terakhir (semalam waktu Indonesia) ditutup menguat ke level 2,977% atau merupakan level tertinggi sejak akhir Mei 2018.

Hal tersebut didorong oleh menurunnya kekhawatiran terkait perang dagang dan sebagai antisipasi pasar menjelang rilis data PDB AS (Jumat malam waktu Indonesia).

Faktor terakhir juga menyebabkan nilai tukar dolar terhadap beberapa mata uang global cenderung menguat yang tercermin dari naiknya indeks dolar AS ke level 94,79 poin dibandingkan hari sebelumnya di level 94,23 poin.

Rilis PDB AS pada kuartal dua tahun ini, berdasarkan konsensus Bloomberg, diprediksi menyentuh 4,2% (QoQ) atau level tertinggi sejak kuartal III-2014.

Hal tersebut berpotensi mendorong inflasi AS meningkat dan memperbesar peluang normalisasi lanjutan suku bunga The Fed (FFR) khususnya 4 kali di tahun ini.

Saat ini, probabilitas kenaikan FFR 4 kali di tahun ini telah berada di level 63% atau meningkat signifikan dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya di level 46%.

Sementara itu, sesuai dengan ekspektasi pasar Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya di level 0%.

Selain itu, mereka juga mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa program quantitative easing masih akan dilakukan hingga akhir tahun 2018 meski nominal pembelian obligasi berkurang dari sebesar €30 miliar menjadi €15 miliar per bulannya dan mempertahankan suku bunga acuannya hingga musim panas 2019.

Tag : sun
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top