Mengintip Bisnis Data Emiten Telekomunikasi Setelah Program Registrasi Kartu

Emiten telekomunikasi dalam beberapa bulan terakhir dibayangi sentimen yang tidak menguntungkan setelah program registrasi kartu prabayar, yakni penurunan jumlah pelanggan.
Fajar Sidik | 25 Juli 2018 10:05 WIB
Karyawan melakukan pengecekan pada salah satu mobile BTS yang berada di jalan tol Merak dalam rangka kerja sama XL Axiata dan Kementerian Perhubungan untuk menyediakan informasi mudik dalam format digital di Banten, Rabu (6/6/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten telekomunikasi dalam beberapa bulan terakhir dibayangi sentimen yang tidak menguntungkan setelah program registrasi kartu prabayar, yakni penurunan jumlah pelanggan.

Bisnis mengutip riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang membuat survei lapangan tentang kondisi terkini bisnis operator telekomunikasi setelah program registrasi selesai, dan dampaknya terhadap bisnis data yang menjadi penopang bisnis hampir semua operator saat ini.

Giovanni Dustin, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjelaskan survei paket data operator yang dilakukan Mirae untuk bulan Juli menunjukkan harga data paket reguler tetap stabil.

Pihaknya mencatat pada bulan Januari, semua operator, yakni Telekomunikasi Indonesia (TLKM/Buy/TP IDR5,000), Indosat (ISAT/Buy/TP IDR6,800), dan XL Axiata (EXCL/Buy/TP IDR3,100) - mempertahankan harga paket datanya.

"Meskipun operator lain belum menaikkan harga paket data seperti ISAT, menurut kami EXCL dan TLKM akan melakukannya di waktu mendatang," ujarnya dalam riset yang diterima Bisnis, Rabu (25/7).

Dia mengungkapkan, pada kunjungannya baru-baru ini ke gerai Telkomsel (Grapari), dan kios pulsa diketahui bahwa efek registrasi SIM card mulai dirasakan. Penjualan starter pack telah menurun pasca-registrasi. Pemilik kios dan karyawan percaya bahwa banyak pelanggan mulai membeli paket isi ulang (reload package) melalui aplikasi di smartphone.

Pihaknya mengaku telah menyuarakan pendapat beberapa kali, bahwa peraturan registrasi tidak cukup ketat. Pemerintah memutuskan untuk merevisi peraturan untuk mengakomodasi permintaan dari pemilik kios pulsa.

"Pembicaraan kami dengan pemilik/karyawan kios pulsa mengonfirmasi ini. Sekarang satu NIK bisa dipakai untuk registrasi nomor sebanyak apapun. Sebelumnya kios hanya dapat mendaftarkan maksimal tiga SIM per NIK."

Menurutnya, pelonggaran itu mengurangi efektivitas registrasi SIM, karena kios-kios sekarang dapat mendaftarkan semua paket perdana yang mereka jual, menggunakan NIK pribadi. Dengan demikian, pembeli paket perdana tidak perlu mendaftar lagi.

"Dari 8 pemilik/karyawan kios pulsa karyawan yang kami wawancarai, lima mengaku bahwa mereka telah melakukan ini, dua belum melakukan ini, dan orang tidak menyadari akan hal ini."

Selain itu, pihaknya percaya bahwa perbedaan harga saat ini antara paket perdana dan paket isi ulang terlalu lebar, yang berarti tidak ada insentif bagi pengguna paket perdana untuk beralih ke paket isi ulang.

Oleh karena itu, SIM registrasi dinilai tidak akan memiliki dampak yang signifikan pada churn rate untuk jangka panjang, kecuali pemerintah memutuskan untuk memperketat regulasi dan operator mengurangi harga paket isi ulang/menaikan harga paket perdana.

"Kami reiterate Overweight call kami, dan TLKM tetap menjadi top pick kami. Target price kami untuk semua operator (TLKM, ISAT, dan EXCL) tidak berubah. Risiko utama untuk call kami termasuk persaingan yang lebih kuat dari yang diperkirakan, perubahan regulasi, dan monetisasi data yang lebih lambat."

Tag : kinerja emiten
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top