Grup Lippo Jamin Proyek Meikarta Berlanjut

Grup Lippo menjamin pelaksanaan mega proyek Meikarta masih sesuai rencana dengan perizinan yang lengkap dan telah mengantongi komitmen dari para mitra strategis.
Emanuel B. Caesario | 22 Juni 2018 11:38 WIB
Foto aerial pembangungan megaproyek Meikarta di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (14/9). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA--Grup Lippo menjamin pelaksanaan mega proyek Meikarta masih sesuai rencana dengan perizinan yang lengkap dan telah mengantongi komitmen dari para mitra strategis.

Ketut Budi Wijaya, Direktur Utama Lippo Karawaci, mengatakan bahwa proyek Meikarta sejak awal dirancang untuk menarik minat investor asing menanamkan modal di Indonesia. Proyek ini ditujukan untuk membangkitkan pasar properti yang sedang lesu dan menciptakan efek berantai bagi perekonomian nasional.

Ketut mengatakan, sumber pendanaan proyek ini sama seperti halnya proyek-proyek Lippo lainnya yang melibatkan modal perseroan, dukungan investor strategis, dan pinjaman bank. Sejauh ini, semua berjalan normal.

“Saya sampaikan ke bursa bahwa proyek ini jalan terus. Itu yang penting. Isu perizinan sudah kami selesaikan, walaupun dari awal kami sampaikan ini bukan masalah. Apapun kekuarangannya, kami sudah penuhi. Kami sudah ada IMB yang benar-benar IMB,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (21/6/2018).

Tahun lalu, perseroan mengantongi Rp7,5 triliun dari hasil pemasaran Meikarta yang lantas diputar untuk dukungan modal proyek ini. Selain itu, perseroan juga mendapatkan suntikan modal mitra strategis.

“Tidak ada investor yang hengkang. Partner-nya sudah ada di situ, mereka menguasai 49% dari proyek itu. Sudah ada injeksi modal dari partner kalau tidak salah sekitar Rp3,1 triliun. Untuk sementara, tentu pembiayaan akan sesuai kemajuan proyek di lapangan,” katanya.

Sementara itu, terkait saham LPKR yang terus turun, Ketut menilai kondisi tersebut sangat erat dipengaruhi oleh dinamika global yang menyebabkan tingginya arus modal keluar dari investor asing.

Di sisi lain, industri properti dalam negeri juga masih mengalami tantangan. Sementara itu, Bank Indonesia membuka kemungkinan kembali menaikkan suku bunga acuan, yang menambah sikap wait and see pasar. Isu politik juga menambah runyam suasana.

Saham LPKR pada perdagangan Kamis (21/6/2018) ditutup di level Rp336, level terendahnya dalam lima tahun terakhir. Tekanan pada saham LPKR juga didorong oleh penurunan peringkat perseroan oleh Moody’s Investor Service pada April lalu dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif, yang artinya kemungkinan penurunan lebih lanjut masih terbuka.

Ketut mengatakan, penilaian Moody’s disebabkan karena lembaga tersebut melihat kinerja industri properti Indonesia yang secara umum melemah, sementara Lippo banyak bergantung pada satu proyek saja yakni Meikarta.

“Padahal, sales Meikarta tidak jelek-jelek amat. Orang lain belum jualan, kami sudah jual Rp7,5 triliun. Kami sampaikan ke Moody’s bahwa kami memiliki rencana lain. Kami memiliki banyak aset yang bisa kita jadikan cash. Kami ada plan untuk memenuhi tuntutan yang dipersyaratkan,” katanya.

Tag : lippo karawaci
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top