Saham LPKR Anjlok, Ini Tanggapan Perseroan

Grup Lippo memastikan kondisi keuangan perusahaan masih cukup solid untuk memastikan proyek-proyek perseroan berjalan sesuai rencana serta memenuhi kewajiban-kewajiban perseroan, meskipun mega proyek Meikarta akhir-akhir ini diterjang berbagai isu negatif.
Emanuel B. Caesario | 22 Juni 2018 06:57 WIB
Proyek pembangunan mega proyek Meikarta, di Cikarang, Jawa Barat, Rabu (23/8). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Grup Lippo memastikan kondisi keuangan perusahaan masih cukup solid untuk memastikan proyek-proyek perseroan berjalan sesuai rencana serta memenuhi kewajiban-kewajiban perseroan, meskipun mega proyek Meikarta akhir-akhir ini diterjang berbagai isu negatif.

Saham induk perusahaan Grup Lippo, PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), terus mengalami tekanan sepanjang tahun ini bersama dengan berhembusnya berbagai isu negatif seputar proyek Meikarta. Proyek ini ditangani oleh anak usaha perseroan, yakni PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK).

Beberapa isu negatif tersebut di antaranya hengkangnya sejumlah investor strategis, terhentinya proyek, gagal bayar kontraktor, pemangkasan insentif tim pemasar, belum tuntasnya perizinan, dan lokasi yang rawan banjir.

Saham LPKR ditutup turun 4% ke level Rp336 pada perdagangan Kamis (21/6/2018), level terendahnya dalam lima tahun terakhir. LPKR pun menghadapi penurunan peringkat oleh Moody’s Investor Service pada April 2018.

Lembaga pemeringkat internasional tersebut menurunkan peringkat LPKR dari B1 menjadi B2 dan memberikan outlook negatif, yang artinya peringkat perusahaan masih terbuka pada kemungkinan penurunan lebih lanjut. Sebelumnya, S&P juga menurunkan peringkat LPKR dari B ke B-.

Danang Kemayan Jati, Head of Corporate Communication LPKR, mengatakan perseroan kecewa dengan keputusan Moody’s dan S&P tersebut sebab secara umum fundamental perseroan masih kuat. Dirinya juga membantah berbagai isu yang menerpa mega proyek Meikarta.

Danang menuturkan dalam 10 tahun terakhir LPKR berkinerja baik dan akan terus menambah nilai jangka panjang bagi pememgang saham. LPKR akan melakukan pendekatan dengan lembaga pemeringkat tersebut untuk menindaklanjuti keputusan mereka, sambil berkomitmen untuk memperkuat likuiditas perusahaan.

Terkait Meikarta, dia menyebutkan saat ini pekerjaannya sedang memasuki fase puncak. Perseroan sedang membangun 92 menara untuk mengejar target penyelesaian 18 tower di antaranya untuk diserahterimakan pada akhir Desember 2018 hingga Februari 2019.

“Jadi, tidak betul bahwa pembangunan berhenti atau partner meninggalkan dan lain sebagainya. Sampai akhir 2017, LPKR membagi dividen tunai sebesar Rp61,5 miliar. Itu artinya kondisi keuangan LPKR masih strong,” tegas Danang, Kamis (21/6).

Untuk membuktikan pembangunan Meikarta berlanjut, lanjutnya, mitra perseroan yakni China Construction bahkan mengadakan seremoni pengerjaan proyek sebelum bulan puasa tahun ini.

Selain itu, LPKR diklaim tidak mengubah target penambahan 10 unit rumah sakit baru pada 2018 dari yang sekarang 33 unit. Pada kuartal I/2018, Danang menerangkan perseroan membukukan laba Rp133 miliar sehingga menunjukkan kinerja yang cukup baik di tengah kondisi bisnis properti yang masih lesu.

Tag : lippo karawaci
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top