IHSG Menguat, Analis: Pasar Respons Data Inflasi & Investor Asing Lakukan Aksi Beli

Penguatan IHSG lebih ditopang oleh stabilitas fundamental makro ekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan, kata Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama kepada Bisnis.com, Selasa (5/6/2018).
Linda Teti Silitonga | 05 Juni 2018 10:11 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/11). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, pk. 10.07 WIB menguat 30,69 poin atau 0,51% ke level 6.045,51.

“Penguatan IHSG lebih ditopang oleh stabilitas fundamental makro ekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan,” kata Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama kepada Bisnis.com, Selasa (5/6/2018).

Apalagi ujarnya, kemarin Badan Pusat Statistik mengumumkan tingkat inflasi di Tanah Air pada mei 2018 yang masih cenderung stabil.

“Hal juga menandakan bahwa tingkat daya beli konsumen masih cenderung meningkat,” kata Nafan.

Sementara itu, aksi beli investor asing yang terjadi saat ini juga menyokong penguatan IHSG.

“Net foreign buy Rp111,67 miliar (sekitar  pk. 10.02 WIB),” kata Nafan.

Seperti diketahui,  rendahnya inflasi Mei 2018 yang bertepatan dengan Ramadan, dipicu oleh terkendalinya inflasi harga pangan bergejolak termasuk beras, cabai merah dan rawit serta bawang putih.

 Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan empat komoditas ini mengalami deflasi sehingga menahan laju inflasi Mei 2018. Dari catatan BPS, beras menyumbang andil deflasi 0,04%, cabai rawit 0,03%, cabai merah 0,08%, dan bawang putih 0,05%.

Menurutnya, strategi pemerintah untuk menjaga harga pangan bergejolak cukup baik sehingga inflasi Mei yang bertepatan pada Ramadan bisa terkendali.

"Banyak sekali, sudah berbagai upaya yang dilakukan menjaga pasokan, operasi pasar. Kalau lihat hasilnya, 0,21% [inflasi Mei], saya pikir bagus ya," ungkap Suhariyanto, Senin (4/6/2018).

Penurunan harga beras dipicu oleh upaya pemerintah mengamankan pasokan dengan melakukan impor serta bertepatan dengan akhir musim panen pada Maret dan April 2018. Dengan demikian, beras tidak menganggu inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2018.

Inflasi sepanjang Mei 2018 yang bertepatan dengan Ramadan memang lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi ketika Ramadan 2016 dan 2017.

Inflasi Ramadan 2016 jatuh pada Juli di mana laju inflasi mencapai 0,69%. Sementara itu, inflasi Ramadan 2017 jatuh pada Juni dengan laju inflasi sebesar 0,69%.

 

Tag : Kinerja Saham
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top