HARGA BATU BARA: Melemah Saat Investor Amati Pengetatan Pasar di Asia

Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk kontrak Januari 2019, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 1,09% atau 1 poin di posisi US$90,45/metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho | 24 Mei 2018 07:44 WIB
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (7/3/2018). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara ditutup melemah pada perdagangan kemarin, Rabu (23/5/2018), di tengah kekhawatiran investor terhadap pengetatan pasar batu bara di Asia.

Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk kontrak Januari 2019, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 1,09% atau 1 poin di posisi US$90,45/metrik ton.

Adapun pada perdagangan Selasa (22/5/2018), harga batu bara kontrak Januari 2019 ditutup menguat 0,16% atau 0,15 poin di posisi US$91,45.

Energi Danmark mengungkapkan pelaku pasar terus mengamati situasi pengetatan pasar batu bara di Asia, sedangkan dolar AS yang ikut memberikan pengaruh pada penurunan minat investor di Eropa.

Pemerintah China dikabarkan menguraikan langkah-langkah untuk menjinakkan harga dan menetapkan target pada 10 Juni untuk ke kisaran di bawah 570 yuan per metrik ton, menurut Shanghai Securities News seperti dikutip Bloomberg.

Sejalan dengan harga batu bara, Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) meluncur dari level tertingginya dalam lebih dari 3 tahun pada akhir perdagangan Rabu menyusul laporan kenaikan tak terduga pada stok minyak mentah dan bensin di AS.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2018 turun 36 sen dan ditutup di level US$71,84 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada perdagangan Selasa (22/5), WTI kontrak Juli turun 15 sen ke level US$72,20.

Di sisi lain, harga minyak Brent untuk pengiriman Juli mampu naik 23 sen dan ditutup di US$79,80 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$7,96 terhadap WTI.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa surplus pasokan minyak pada negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut membengkak sebesar 5,78 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan bensin berekspansi sebesar 1,88 juta.

Padahal, hampir setiap analis dan ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan stok akan menyusut.

“Saya terkejut melihat kenaikan besar pada minyak mentah. Risikonya adalah penurunan (harga) saat ini,” kata Tariq Zahir, commodity fund manager di Tyche Capital Advisors LLC., seperti dikutip Bloomberg.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

23 Mei

90,45

(-1,09%)

22 Mei

91,45

(+0,16%)

21 Mei

91,30

(+1%)

18 Mei

90,40

(-2,01%)

17 Mei

92,25

(+1,10%)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

 

 

Tag : harga batu bara
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top