DAMPAK PELEMAHAN IHSG: Pembelian Baru Reksa Dana Melesat

Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang bulan lalu tidak lantas membuat industri reksa dana sepi. Pembelian reksa dana oleh investor pada tahun lalu justru menunjukkan peningkatan.
Tegar Arief | 04 Mei 2018 07:52 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA— Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang bulan lalu tidak lantas membuat industri reksa dana sepi. Pembelian reksa dana oleh investor pada tahun lalu justru menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total nilai aktiva bersih per 31 April lalu mencapai Rp507,49 triliun, naik 6,42% dibandingkan dengan posisi per akhir Maret yang senilai Rp476,85 triliun.

Sejalan dengan itu, total pembelian baru (net subscription) reksa dana juga menunjukkan kenaikan. Sepanjang bulan lalu, total net subscription tercatat mencapai Rp14,87 triliun, melejit hingga 188,73% dibandingkan net subscription pada bulan sebelumnya yang hanya Rp5,15 triliun.

"Karena ketika indeks turun investor malah ramai beli reksa dana terutama saham. Tren ini terjadi sejak Maret yang memang saham saat itu sudah turun," kata Head of Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana saat dihubungi Bisnis, Kamis (3/5).

Menurutnya, tren ini telah terjadi sejak 2 tahun terakhir. Jadi, ketika IHSG melemah, investor justru melakukan aksi beli. Tak hanya investor ritel, strategi ini juga diaplikasikan oleh investor institusi.

Di sisi lain, Wawan menilai penurunan IHSG masih dalam tahap wajar. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Infovesta Utama, batas wajar penurunan indeks adalah 20% dari angka tertinggi.
Artinya, jika rekor indeks berada pada level 6.600, maksimal penurunan ada pada level 5.500.

Menurutnya, data ini bisa digunakan investor untuk melanjutkan aksi beli. "Memang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tetapi memang kemarin [April] saat yang tepat untuk masuk," tegasnya.

Namun, dia mengingatkan agar investor untuk melakukan aksi beli secara bertahap. Alasannya, pasar masih menunggu kepastian kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan aksi Bank Indonesia dalam menyikapi kebijakan negara tersebut.

Wawan berpendapat, jika The Fed menaikkan suku bunga, BI harus melakukan langkah serupa. Tujuannya untuk menjadikan pasar modal nasional lebih kompetitif dan tidak ditinggalkan oleh investor asing.

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai, indeks bukanlah faktor tunggal pengerek laju net subscription pada bulan lalu. Menurutnya ada sejumlah faktor yang juga mempengaruhi.

Salah satunya adalah banyaknya manajer investasi yang meluncurkan produk reksa dana terproteksi. Berdasarkan data OJK, per akhir bulan lalu total produk reksa dana yang beredar mencapai 1.866 produk, sekitar 791 di antaranya adalah reksa dana terproteksi.

"Faktor psikologi bahwa saat IHSG jatuh saatnya beli itu memang ada. Tapi itu bukanlah faktor tunggal karena reksa dana tidak hanya saham. Terproteksi kemarin banyak dilucnurkan," jelasnya.

Dia menilai, ada dua karakteristik investor yang memicu kenaikan net subscription. Pertama, investor yang memanfaatkan penurunan indeks sebagai momentum mendapatkan harga murah.

Kedua, investor yang memang terus berinvestasi karena adanya program berkala. "Ini yang memang dijalankan secara rutin sehingga kondisi saham seperti apapun tetap melakukan pembelian reksa dana," ujarnya.

 

Tag : reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top