Harga Gula di Pasar Global Diprediksi Pulih pada 2020

Chief Executive Officer (CEO) Alvean Gareth Griffiths, pedagang gula terbesar dunia menuturkan pada Selasa (24/4) bahwa harga gula akan mulai pulih pada 2020 di tengah kelebihan stok global yang membebani.
Eva Rianti | 25 April 2018 18:39 WIB
Gula - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) Alvean Gareth Griffiths, pedagang gula terbesar dunia menuturkan pada Selasa (24/4) bahwa harga gula akan mulai pulih pada 2020 di tengah kelebihan stok global yang membebani.

“Harga gula akan mulai pulih pada masa panen 2020,” kata Griffiths di sela—sela Platts Kingsman Sugar conference di Jenewa, seperti dilansir Reuters, Rabu (25/4/2018).

Sebagai pemain utama ekspor Brasil, Griffiths mengatakan bahwa Alvean telah terpegaruh oleh kondisi pasar yang lemah seiring dengan melemahnya harga global selama setahun terakhir. Adapun, Brasil merupakan produsen sekaligus eksportir gula terbesar di dunia.

Terpantau, harga gula kontrak teraktif Juli 2018 di ICE New York pada penutupan perdagangan Selasa (24/4) telah mengalami kejatuhan di level US$11,38 sen per pound, level terendah sejak September 2015.

Secara year-to-date (ytd), harga telah merosot lebih dari 22%, penurunan terbesar di antara komoditas perkebunan lainnya menurut Bloomberg Commodity Index. Tahun lalu, harga komoditas ini juga sempat melemah hingga 28% year-on-year (yoy).

“Peningkatan produksi di Uni Eropa, Thailand, dan India telah menyebabkan kelebihan pasokan gula di pasar dunia dan menyebabkan tekanan pada harga gula berjangka,” ujar Griffiths.

Griffiths memperkirakan surplus gula global mencapai 25 juta ton pada kombinasi musim 2017/2018 dan musim 2018/2019. “Dalam jangka pendek, harga berpotensi turun lebih rendah,” ujarnya.

Dia memperkirakan UE akan mengekspor sebanyak 3 juta-3,5 juta ton pada musim ini. Melalui perhitungan hasil panen dan luas lahan, Griffiths juga memproyeksikan angka yang sama untuk musim depan.

Sebelumnya, EVP of Market Risk Management di Paris Alexander Luneau juga memperkirakan ekspor gula UE akan mencapai sekitar 3,5 juta ton pada musim ini, lebih tinggi dari musim sebelumnya sebesar 1,4 juta ton ketika World Trade Organization (WTO) mengatur pembatasan pengiriman.

Proyeksi ini diasumsikan berdasarkan prediksi output gula UE yang kemungkinan akan mencapai 20,1 juta ton pada musim 2017/2018, naik sekitar 21% dari musim sebelumnya sebesar 15,9 juta ton.

Sementara pada waktu yang sama, konsumsi tidak mengalami peningkatan sehingga mendorong UE untuk ekspansi ke luar negeri dengan melakukan ekspor sekitar 3,5 juta ton pada musim ini.

Senada, analis Green Pool Josh Rossato memproyeksikan ekspor gula UE naik menjadi 3,5 juta ton pada musim kali ini. Namun, Rossato memprediksi surplus lebih kecil yaitu sekitar 17,46 juta ton, masing-masing di 2018 sebesar 11,51 juta ton dan di 2019 sebanyak 5,95 juta ton.

Analis F.O Loicht Stefan Uhlenbrock menuturkan, kenaikan produksi global juga kemungkinan ditopang oleh India dan Thailand. Menurut data Bank Dunia, India, produsen gula terbesar kedua di dunia akan memproduksi gula sebanyak 25,8 juta ton pada musim 2017/2018, naik 15% dari musim sebelumnya sebesar 21,9 juta ton.

Adapun, Thailand, produsen gula terbesar keempat di dunia diproyeksikan akan memproduksi gula sebanyak 11,2 juta ton, naik 11% dari musim sebelumnya sebesar 10 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, gula, harga gula

Sumber : Reuters
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top