Narada Kapital Siapkan Produk Reksa Dana Anyar

PT Narada Kapital Indonesia akan meluncurkan produk reksadana saham baru. Pertimbangannya, unit penyertaaan Reksa Dana Narada Saham Indonesia (NSI) sudah mendekati jumlah maksimal yakni 500 juta unit.
Asteria Desi Kartika Sari | 22 Maret 2018 10:08 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -  PT Narada Kapital Indonesia akan meluncurkan produk reksadana saham baru. Pertimbangannya, unit penyertaaan Reksa Dana Narada Saham Indonesia (NSI) sudah mendekati jumlah maksimal yakni 500 juta unit.

Jalaludin Miftah, Vice President Marketing Communications PT Narada Kapital Indonesia mengatakan dengan semakin banyak produk, pihaknya berharap investor bisa lebih leluasa memilih produk reksa dana yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter investasi masing-masing. Adapun untuk nama produknya masih disiapkan.  

Jika di awal Januari asset under management (AUM) Narada masih di kisaran Rp232 miliar, di akhir Februari lalu melonjak menjadi Rp420 miliar. Jalaludin mengklaim hal itu menunjukkan respon investor terhadap produk Narada sangat bagus. Tercermin dari kenaikan AUM yang mencapai dua kali lipat dalam kurun waktu dua bulan saja.

Narada menargetkan return 20% untuk produk reksa dana saham yang ada maupun yang baru. Namun, return itu juga tidak menutup kemungkinan bisa lebih tinggi karena di tahun lalu mereka mampu memberi imbal hasil mencapai 35,4%.

Jalaludin mengatakan produk reksa dana saham anyar Narada dijadwalkan keluar pada kuartal dua. Kemudian disusul dengan peluncuran reksa dana syariah dan reksa dana pendapatan tetap atau obligasi. "Strategi mengeluarkan produk reksa dana baru seiring dengan target kelolaan AUM baru yang mencapai Rp2 triliun di akhir 2018 alias naik hingga 9 kali lipat dibanding 2017," katanya dalam rilis, Rabu (21/3/2018) malam. 

Agar target kelolaan AUM tercapai, Jalaludin mengatakan akan menggencarkan edukasi masyarakat akan pentingnya berinvestasi saham dan reksa dana. Edukasi tak hanya dilakukan kepada investor ritel namun juga kepada investor institusi seperti dana pensiun, yayasan dan perusahaan.  

Ke depan, pihaknya akan fokus menggarap potensi investor ritel di kota-kota besar seperti Bandung, Medan, Surabaya dan kota-kota lain. Bahkan, jika di suatu daerah potensi investor cukup besar, Narada mempertimbangkan untuk membuka kantor cabang.  

Jalaludin mengatakan investasi di pasar saham, masih prospektif karena berbagai indikator ekonomi menunjukkan tren positif. Misal dari sisi GDP, Indonesia tumbuh 5,2%, inflasi relatif terjaga di angka 3,5%, belum lagi harga-harga komoditas cenderung stabil. 

Investor di Indonesia, kata Jalaludin, sudah pintar, tidak gampang terpengaruh, isu-isu global yang ekstrim juga tidak ada. Apalagi horison investasi reksa dana menengah dan panjang, sehingga tak ada alasan menunda investasi reksa dana.

 

Tag : reksa dana
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top