Bunga The Fed Naik, Saatnya Beli Saham!

Bisnis.com, JAKARTA -- Investor domestik disarankan segera membeli saham seiring dengan proyeksi rebound indeks harga saham gabungan (IHSG) pascakenaikan suku bunga The Fed. Dengan demikian, investor bisa mendapat keuntungan yang lebih baik dari masuknya dana asing pascapenaikan FFR.
M. Richard | 22 Maret 2018 12:12 WIB
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan
Bisnis.com, JAKARTA -- Investor domestik disarankan segera membeli saham seiring dengan proyeksi rebound indeks harga saham gabungan (IHSG) pascakenaikan suku bunga The Fed. Dengan demikian, investor bisa mendapat keuntungan yang lebih baik dari masuknya dana asing pascakenaikan FFR.

Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis UI Ari Kuncoro mengatakan, IHSG akan kembali rebound pascaketidakpastian pasar menunggu kenaikan suku bunga The Fed.

"Naik turun itu biasa dalam dunia saham, mumpung lagi rendah investor domestik cepat beli saham, jadi bisa untung dikemudian hari" katanya kepada Bisnis, Kamis (22/2/2018).

Adapun, sepanjang tahun berjalan 2018, IHSG sempat menyentuh titik tertingginya 6.680 pada pertengahan Februari 2018, tetapi menyentuh titik terbawah 6.240 beberapa hari lalu. Adapun hari ini, IHSG sudah beranjak naik pada kisaran 6.330.

Salah satu penyebab penurunan IHSG, menurut Ari, adalah ketidakpastian market menunggu kenaikan suku bunga The Fed. "Tapi, sekali itu sudah pasti, IHSG menunjukkan perbaikan," imbuhnya.

Dia menjelaskan, sebenarnya market sudah memperkirakan kenaikan tersebut, hanya saja memang sedikit ragu dengan Ketua The Fed yang baru Jerome Powell.

Oleh karena itu, investor memang akan mebuat keputusan untuk keluar sementara dari negara berkembang, hingga benar-benar kepastian muncul. "Itu makanya juga banyak mata uang negara berkembang itu terdepresiasi," imbuhnya.

Ketika kenaikan suku bunga The Fed diputuskan, jelasnya, investor akan menganalisa kembali negara mana yang menguntungkan, dan indikator yang paling bisa terlihat adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari Amerika, jadi kemungkinan besar investor akan kembali lagi," katanya.

Oleh karena itu, kata Ari, penting bagi pemerintah untuk mempercepat segala kebijakan yang mempermudah investor, seperti percepatan pelaksanaan berusaha dan segala bentuk insentif fiskalnya.
 
Berdasarkan berita Reuters, otoritas moneter Amerika Serikat memutuskan untuk menaikkan suku bunga The Fed menjadi 1,75% dari 1,5%, serta menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonominya menjadi 2,7% dari 2,5%.

Selain itu, The Fed memprediksi tingkat pengangguran AS turun dari 3,9% menjadi 3,8%. Dikarenakan orang lebih banyak bekerja, The Fed memprediksikan inflasi akan terkerek naik dari 1,9% mendekati 2,0%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top