Australia Paling Kena Imbas Penurunan Harga Bijih Besi

Jika pelemahan harga bijih besi global terus berlanjut lebih dalam, maka negara yang paling terkena imbasnya ialah ekspotir utama Australia. Di Negeri Kanguru itulah perusahaan-perusahaan besar bahan baku baja tumbuh dan berkembang dengan melakukan pengiriman ke berbagai negara, terutama China.
Eva Rianti | 20 Maret 2018 15:27 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA – Jika pelemahan harga bijih besi global terus berlanjut lebih dalam, maka negara yang paling terkena imbasnya ialah ekspotir utama Australia. Di Negeri Kanguru itulah perusahaan-perusahaan besar bahan baku baja tumbuh dan berkembang dengan melakukan pengiriman ke berbagai negara, terutama China.

Permintaan bijih besi yang merosot dinilai bisa mengganggu rebound dolar Australia terhadap dolar AS yang baru pulih. Sepanjang bulan ini, Aussie telah mengalami reli sebesar 2,6%, sebagian didorong oleh keputusan Presiden AS Donald Trump untuk membebaskan Australia dari tarif logam.

Terpantau, mata uang Australia merosot ke level 77 sen per dolar AS pada perdagangan Senin (19/3), anjlok cukup tajam dari level 78,77 sen per dolar AS pada Kamis (14/3).

Angka tersebut mendekati level terendah sejak Desember. Secara year to date (ytd), aussie melemah 1,47%, kinerja terburuk diantara mata uang utama setelah dolar Kanada.

Analis menilai kerugian lebih lanjut pada komoditas bijih besi ke depan itulah yang mendorong mata uang aussie terlihat siap untuk melanjutkan kemerosotan dan menjadikannya sebagai pemain terburuk kedua diantara anggota Group of 10, sebuah kumpulan negara yang berpartisipasi dalam General Arrangements to Borrow.

Dilansir dari Bloomberg, analis berpendapat bahwa pengiriman bijih besi ke China, konsumen terbesar bijih besi di dunia telah mengalami perlambatan lantaran kondisi keuangan yang lebih ketat dan melunaknya pertumbuhan permintaan.

Kondisi itu juga bahkan mendorong pelemahan bijih besi kualitas tinggi hingga merosot sebesar 13% selama 3 pekan terakhir. “Perlambatan dalam pengiriman bijih besi mendorong kehati-hatian pada pembelian AUD,” papar Bank of Amerika Corp.

Bank of Amerika Corp. menuturkan, adanya kehati-hatian terhadap risiko jika kondisi keuangan lebih ketat, terutama biaya pendanaan dan pengaruh tindakan keras China terhadap pembersihan lingkungan serta menimbang kondisi pasar properti China yang baru saja merilis data perkembangan yang melambat pada periode Februari.

Analis Bank of Australia Vivek Dhar menuturkan bahwa prospek bijih besi melemah, sekalipun tanpa perang dagang lantaran lebih ditopang pada persediaan yang meningkat. Menurut data Steelhome, persediaan mencapai level tertinggi 8 tahun sebanyak 159,2 juta ton.

“Masalah permintaan baja ini didorong oleh kenaikan tajam pada stok baja tulangan [rebar] sehingga menekan pasar bijih besi,” kata Dhar.

Analis Mysteel Research yang bebasis di Shanghai Yu Chen menuturkan bahwa hal tersebut akan menghemat kapasitas baja sebesar 9,88 juta ton dari 1,05 miliar total kapasitas di China atau sekitar 1% dari total kapasitas nasional.

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, bijih besi
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top