Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Data NFP AS Lebih Rendah dari Ekspektasi, Posisi Emas Menguat

Harga emas menguat hingga mencapai level US$1.322 per troy ounce paska rilis data Non Farm Payroll (NFP) pada Jumat (5/1/2018) yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.
Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange./Antara
Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange./Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas menguat hingga mencapai level US$1.322 per troy ounce paska rilis data Non Farm Payroll (NFP) pada Jumat (5/1/2018) yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.

Tercatat, pada penutupan perdagangan Jumat (5/1/2018), harga emas Comex untuk pengiriman Februari 2018 menguat 0,70 poin atau 0,05% menjadi US$1.322,30 per troy ounce, mendekati level tertinggi pada 15 September 2017 di US$1.325,20 per troy ounce. Sementara itu, emas spot turun 3,42 poin atau 0,26% menuju US$1.319,59 per troy ounce.

Pada waktu yang sama, indeks dolar AS yang mengukur kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia naik tipis 0,096 poin atau 0,10% menjadi 91,949. Namun angka tersebut masih berada pada level terendah empat bulan.

Berdasarkan laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS/ US Departmen of Labor (DOL), pertumbuhan tenaga kerja AS periode Desember 2017 sebanyak 148.000 jiwa, jauh dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 228.000 jiwa. Angka ini juga lebih rendah dari ekspektasi pasar sebanyak 190.000 jiwa.

NFP dilaporkan oleh Departemen Tenaga Kerja AS bersama data tingkat pengangguran yang tidak berubah dari bulan sebelumnya yakni sebesar 4,1%, sesuai dengan estimasi pasar.

Angka itu merupakan level terendah sejak Desember 2000. Selain itu, data rata-rata gaji per jam juga sesuai dengan ekspektasi pasar yaitu naik sebesar 0,3%.
Data NFP ini tidak sejalan dengan data ADP yang telah dirilis pada Rabu (3/1) yang menunjukkan bahwa serapan tenaga kerja AS periode Desember meningkat mencapai 250.000 jiwa.

“Angka ini sangat lemah. Mengejutkan mengingat ADP yang kuat pada Rabu lalu. Namun itu hanya data satu bulan. Orang biasanya melihat rata—rata tiga bulan karena ukurannya lebih baik,” ungkap Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer of Charlotte, seperti dikutip dari Reuters.

Menurut Zaccarelli, pasar kemungkinan tidak begitu memperhatikan data ini untuk saat ini, sehingga dolar AS tidak terperosok kendati masih dalam posisi bearish.

Mark McCormick, kepala strategi FX Amerika Utara di TD Securities di Toronto mengatakan bahwa data tersebut mengecewakan dan bisa mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga Maret dan akan menekan dolar AS.

Tertekannya dolar AS akan menguntungkan emas yang berdenominasi dolar akan menjadi lebih murah untuk pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mendorong permintaan yang lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Eva Rianti
Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper