Kuwait Nyatakan Negara OPEC Siap Hentikan Pemangkasan Produksi Minyak, Ini Alasannya

Menteri Perminyakan Kuwait Issam Almarzooq mengatakan pada Minggu (10/11) bahwa OPEC dan sekutunya termasuk Rusia kemungkinan akan menghentikan pemotongan produksi mereka sebelum 2019 apabila pasar telah mencapai keseimbangan pada Juni 2018.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 11 Desember 2017  |  13:03 WIB
Kuwait Nyatakan Negara OPEC Siap Hentikan Pemangkasan Produksi Minyak, Ini Alasannya
Suasana sidang OPEC di Vienna, Austria. - REUTERS/Heinz/Peter Bader

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Perminyakan Kuwait Issam Almarzooq mengatakan pada Minggu (10/11) bahwa OPEC dan sekutunya termasuk Rusia kemungkinan akan menghentikan pemotongan produksi mereka sebelum 2019 apabila pasar telah mencapai keseimbangan pada Juni 2018.

“Kami masih memiliki sisa tahun penuh dalam kesepakatan tersebut, namun ada kemungkinan kami keluar dari kesepakatan pemotongan sebelum 2019 jika pasar seimbang kembali pada Juni,” kata Almarzooq.

Bahkan Almarzooq juga menuturkan bahwa Rusia ingin mengakhiri kesepakatan penghentian produksi sedini mungkin.

Kondisi itu mendorong OPEC untuk mempelajari strategi keluar dari kesepakatan pemotongan global pada pertemuan berikutnya pada Juni 2018.

“Ada tekanan dari Rusia untuk segera keluar dari kesepakatan sesegera mungkin, begitu pasar seimbang” tuturnya lagi.

Sementara itu, Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazrouei mengatakan bahwa terlalu dini untuk berkomentar saat OPEC baru saja mengeluarkan kesepakatan pemotongan produksi.

“OPEC berencana membahas strategi keluar tersebut pada Juni mendatang, namun dapat bertemu kapanpun jika diperlukan,” kata Al Mazrouei.

Senada, Menteri Perminyakan Irak Jabbar al-Luaibi juga menuturkan, terlalu dini untuk berspekulasi tentang keputusan yang seharusnya dibahas pada Juni mendatang.

“Itu tergantung pasar. OPEC membuat keputusan untuk memantau pasar dan saat ini sedang mempelajari pasar. Perkembangan di pasar akan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap keputusan,” kata al Luaibi.

Seperti diketahui, OPEC dan sekutunya telah sepakat pada 30 November 2017 lalu untuk melanjutkan upaya pemangkasan produksi hingga akhir tahun depan dalam upaya untuk mencapai keseimbangan pasar, sementara saat ini masih berfluktuasi.

Kendati mengalami penguatan pasca kesepakatan tersebut, minyak sempat tertekan selama sepekan lantaran investor mengalihkan perhatian pada peningkatan produksi minyak shale AS.

Namun, pada akhir pekan lalu harga beringsut lebih tinggi seiring dengan permintaan yang kuat dari negara ekonomi terbesar kedua di dunia, yaitu China.

Terpantau harga terbaru, pada perdagangan Senin (11/12), pukul 10.51 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,27 poin atau 0,47% menjadi US$57,09 per barel di New York Merchantile Exchange.

Sementara harga minyak Brent turun 0,29 poin atau 0,46% menuju US$63,11 per barel di ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Sumber : Bloomberg

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top