Bukit Asam Siapkan Belanja Modal Rp4 Triliun

Korporasi tambang batubara milik negara, PT Bukit Asam (Persero) Tbk., menganggarkan belanja modal sekitar Rp4 triliun-Rp5 triliun pada 2018 untuk mendukung berbagai rencana perusahaan.
Yodie Hardiyan | 29 November 2017 18:59 WIB
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin (kanan), menjawab pertanyaan didampingi Direktur Joko Pramono, saat paparan publik perseroan di Jakarta, Kamis (19/10). - JIBI/Dwi Prasetya
Bisnis.com, JAKARTA - Korporasi tambang batubara milik negara, PT Bukit Asam (Persero) Tbk., menganggarkan belanja modal sekitar Rp4 triliun-Rp5 triliun pada 2018 untuk mendukung berbagai rencana perusahaan.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan belanja modal itu paling banyak akan dialokasikan untuk ekuitas bagi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Banko Tengah atau Sumsel 8 berkapasitas 2x620 megawatt (MW).

“Dan kita juga akan sinergi dengan Antam untuk akuisisi beberapa PLTU,” katanya ditemui seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang membahas pembentukan holding BUMN tambang, Rabu (29/11/2017).

Seperti diketahui, BUMN lain yang menjadi anggota holding tambang bersama Bukit Asam yaitu PT Antam (Persero) Tbk., berencana melepas (spin off) PLTU berkapasitas 2x30 MW di Pomalaa, Sulawesi Tenggara yang dibangun untuk mendukung Proyek Pengembangan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP).

Setelah dilepas oleh Antam, Bukit Asam akan mengakuisisi PLTU senilai Rp2 triliun-Rp3 triliun tersebut. Akuisisi PLTU itu seiring dengan rencana Bukit Asam menjadi perusahaan energi, bukan lagi perusahaan tambang batubara.

Akuisisi PLTU milik Antam oleh Bukit Asam juga dilakukan sebagai bagian dari sinergi antar anggota holding BUMN tambang yang telah resmi dibentuk.

Selain itu, Bukit Asam dan Antam juga bekerjasama dalam membangun PLTU 2x60 MW di Halmahera Timur sebagai sumber energi Electric Smelting Furnace bagi Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH).

“PLTU Haltim (Halmahera Timur) itu untuk mendukung smelter yang harus produksi 2019. (Belanja modal) yang lain untuk pembangunan infrastruktur, untuk sarana logistik, kereta api (pengangkutan batubara) secara bertahap,” katanya.

Menurutnya, perusahaan akan meningkatkan kapasitas Pelabuhan Kertapati, Palembang dari 3,7 juta ton per tahun menjadi 5 juta ton per tahun. Menurutnya, rencana tersebut merupakan bagian dari peningkatan kapasitas penjualan perusahaan.

“Terakhir, hilirisasi dari batu bara. Kita lagi menjajaki mudah-mudahan terealisasi tahun depan untuk membuat produk downstream dari batubara at the end produknya bisa jadi urea, LPG, petrochemical. Itu melalui proses gasifikasi. Kita sudah lakukan studi dan mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa lakukan pegnembangan proyek,” paparnya.

Arviyan mengatakan sumber dana belanja modal itu berasal dari kas internal, pinjaman perbankan dan sejumlah sumber pendanaan lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bukit asam

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top