Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emas Comex Sentuh level Terendah dalam Tiga Pekan

Harga emas menyentuh level terendah selama hampir tiga minggu karena rencana England Central Bank (ECB) mengangkat dolar AS.
Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange./Antara
Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange./Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas menyentuh level terendah selama hampir tiga minggu karena rencana England Central Bank (ECB) mengangkat dolar AS.

Pada perdagangan Jumat (26/10) pukul 07.30, harga emas spot naik tipis 0,09 poin atau 0,01% menuju US$1.267,08 per troy ounce setelah sebelumnya ditutup melemah sebesar US$1.266,99 per troy ounce .

Sementara itu, harga emas Comex melemah 2,20 poin atau 0,17% menjadi US$1.267,40 per troy ounce. Sepanjang tahun, harga naik 9,95%.

Dolar AS menguat terhadap euro setelah ECB mengatakan akan memperpanjang masa program pembelian obligasi pasca pertemuan Kamis lalu.

Investor mulai memperkirakan kenaikan suku bunga di masa depan yang berimbas menjauhnya dari emas, obligasi, saham, dan aset lainnya yang dianggap berisiko.

Melemahnya harga emas di samping menguatnya dolar AS dipicu oleh spekulasi segar tentang pengisi kursi Gubernur The Federal Reserve berikutnya yang akan menjalankan kebijakan hawkish.

Pada Selasa lalu, Presiden AS Donald Trump menyurvei Partai Republik mengenai apakah seluruh senat partai memilih ekonom Stanford John Taylor atau Gubernur The Fed Jerome Powell untuk melanjutkan estafet kepemimpinan The Fed. Dominan dari keputusan itu adalah pemilihan terhadap Taylor yang cenderung akan menaikkan suku bunga lebih tinggi.

Analis forex.com Fawad Razaqzada mengatakan, saham berada pada tingkat yang sangat tinggi di AS, namun Eropa akan mulai bermain mengejar ketertinggalan. Adapun greenback yang kuat membuat emas menjadi tertekan.
“Saya bearish pada emas. Sementara tetap berada di bawah US$1.300 per troy ounce,” katanya.

Sementara itu, menurut jajak pendapat Reuters, emas cenderung datar pada 2018 karena meningkatnya momentum pemotongan suku bunga AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Eva Rianti
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper