Produksi Batu Bara DOID Turun 16,22% Pada September 2017

PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID) mencatatkan penurunan produksi batu bara sebesar 16,22% pada September dibandingkan bulan sebelumnya. Padahal, pada Agustus, perseroan mencatatkan produksi batu bara tertinggi sepanjang tahun berjalan.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintasi sungai Mahakam, di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu 23/4)./JIBI-Paulus Tandi Bone
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintasi sungai Mahakam, di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu 23/4)./JIBI-Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID) mencatatkan penurunan produksi batu bara sebesar 16,22% pada September dibandingkan bulan sebelumnya. Padahal, pada Agustus, perseroan mencatatkan produksi batu bara tertinggi sepanjang tahun berjalan.

Manajemen perseroan dalam Laporan Produksi Bulanan menyebutkan produksi batu bara anak usaha perseroan yakni PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) pada September 2017 sebanyak 3,1 juta ton, turun 16,22% dibandingkan Agustus yang mencatatkan produksi batu bara sebanyak 3,7 juta ton.

Dalam laporan yang dipublikasikan, Senin (23/10/2017) tersebut juga menunjukkan produksi batu bara pada September 2017 juta turun tipis sebesar 3,12% secara tahunan. Pasalnya, pada September 2016, perseroan mencatatkan produksi batu bara sebesar 3,2 juta ton.

Tak hanya produksi batu bara, produksi lapisan tanah penutup (overburden removal) pada September juga turun tipis sebesar 3,26% menjadi 29,7 juta bank meter kubik (bank cubic meter/BCM). Padahal, pada Agustus, overburden removal tercatat 30,7 juta BCM. Kendati demikian, jika ditengok secara tahunan, produksi overburden removal tersebut meningkat 11,65% dari 26,6 juta BCM pada September 2016.

Namun, perseroan mengungkapkan sepanjang tahun berjalan (Januari-September), BUMA telah memproduksi overburden removal sebanyak 257,6 juta BCM. Jumlah tersebut, tumbuh 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Produksi batu bara juga tumbuh 23% menjadi 30,6 juta ton. Meski, cuaca yang tidak menguntungkan dan operasional yang menanjak akibat meningkatkan volume produksi sepanjang 2017,” tulis manajemen dalam laporan tersebut.

Pada September 2017, perseroan juga mencatatkan rasio pengupasan (stripping ratio/SR) tertinggi sepanjang tahun ini dengan angka 9,5x. Padahal, pada Agustus 2017, SR hanya tercatat sebanyak 8,3x.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Lukas Hendra TM
Editor : Maftuh Ihsan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper