Harga Bijih Besi Kian Merosot Semester II

Harga bijih besi diperkirakan mengalami pelemahan pada semester II/2017 seiring dengan bertumbuhnya pasokan global dan menurunnya permintaan.
Hafiyyan | 21 Mei 2017 18:21 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA--Harga bijih besi diperkirakan mengalami pelemahan pada semester II/2017 seiring dengan bertumbuhnya pasokan global dan menurunnya permintaan.

Pada penutupan Jumat (19/5/2017), harga bijih besi kadar 62% di bursa Dalian meningkat 0,32% atau 1,50 poin menjadi 474 yuan (US$68,77) per ton. Ini menunjukkan pelemahan 6,88% sepanjang tahun berjalan.

Tahun lalu, harga bijh besi melonjak 84,18% year on year/yoy menjadi 652 yuan (US$93,95) per ton karena dukungan stimulus pemeirintah China terhadap produksi baja yang menaikkan sisi konsumsi.

Negeri Panda menyerap sepertiga suplai bijih besi global dan memasok sekitar 50% baja di dunia, sehingga kinerjanya sangat berpengaruh terhadap pasar komoditas tersebut.

Head of research commodity broker Marex Spectron Georgi Slalov menyampaikan pasar bijih besi dalam paruh kedua 2017 akan menghadapi penurunan permintaan dan pasokan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, harga berpeluang jatuh ke area US$40 per ton.

"Indikasi pasar sedang tidak baik, sehingga harga bisa merosot ke US$50 per ton. Bahkan ada peluang harga jatuh 50% dari puncaknya pada Februari 2017," paparnya seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (21/5/2017).

Menurut data Metal Bulletin Ltd, harga bijih besi dengan kandungan 62% stabil di area US$60-an per ton sejak pertengahan April 2017. Sebelumnya harga mencapai puncak di posisi US$94,86 per ton pada Februari 2017, atau level tertinggi dalam 30 bulan terakhir.

Slalov mengatakan harga yang sudah naik terlampau tinggi pada awal tahun akan bergerak lebih normal ketika pasar melihat kembali prospek faktor fundamental. Salah satu sentimen yang menimbulkan kekhawatiran ialah proyek S11D oleh Vale SA di Brasil.

Berdasarkan survei Bloomberg, pasar juga mengantisipasi meningkatnya produksi dari tambang raksasa Vale SA di Brasil, sebagai produsen bijih besi terbesar di dunia. Perusahaan diperkirakan menghasilkan 84,7 juta ton pada kuartal I/2017, termasuk pembelian dari pihak ketiga. Angka ini naik 9,29% year on year (yoy) dari kuartal I/2016 sejumlah 77,5 juta ton.

Adanya proyek S11D berpotensi meningkatkan produksi bijih besi Vale SA pada 2017 menuju 360 juta-380 juta ton, dan pada 2018 sebesar 400 juta ton. Tahun lalu, tingkat produksi menyentuh volume 348,8 juta ton, yang menjadi rekor terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Di Australia, pengiriman dari pelabuhan utama Hedland juga diperkirakan meningkat menjadi 115,1 juta ton pada tiga bulan pertama 2017, dibandingkan 109,9 juta ton pada kuartal I/2016.

Dalam jangka pendek, sambung Slalov, harga masih mendapatkan sentimen positif dari permintaan yang lebih kuat dari China. Biasanya, produksi baja akan meningkat pada April setiap tahunnya.

"Namun ada kekhawatiran perlambatan permintaan pada musim panas dan setelahnya," tuturnya.

Sumber : Bloomberg

Tag : bijih besi
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top