Bank Dunia: Komoditas Energi dan Logam Paling Cerah

World Bank mempertahankan proyeksi peningkatan yang kuat terhadap harga komoditas industri, terutama sektor energi dan logam, pada 2017 akibat pengetatan pasokan serta pertumbuhan permintaan.
Hafiyyan | 26 April 2017 19:50 WIB
Memantau harga komoditas - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - World Bank mempertahankan proyeksi peningkatan yang kuat terhadap harga komoditas industri, terutama sektor energi dan logam, pada 2017 akibat pengetatan pasokan serta pertumbuhan permintaan.

Dalam laporan Commodity Markets Outlook April 2017 yang dirilis Rabu (26/4/2017), World Bank mempertahankan prediksi rerata harga minyak mentah pada tahun ini melompat 28,5% year on year (yoy) menjadi US$55 per barel dari 2016 senilai US$42,8 per barel. Adapun pada 2018, harga meneruskan peningkatan menjadi US$60 per barel.

Proyeksi tersebut mengasumsikan adanya realisasi pembatasan produksi minyak dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara produsen minyak lainnya sepanjang semester I/2017. Kesepakatan pemangkasan suplai pelu dilakukan karena sudah lama tingkat produksi tidak terkendali.

Sebelumnya pada rapat 30 November 2016, anggota OPEC sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi 32,5 juta bph mulai awal 2017. Selanjutnya pada 10 Desember 2016, sejumlah negara produsen minyak mentah lainnya setuju menurunkan suplai baru sejumlah 558.000 bph.

Artinya, mulai tahun ayam api, pasar minyak mentah akan mengalami selisih pasokan minyak baru hampir 1,8 juta bph.

Harga komoditas energi yang mencakup minyak mentah, gas alam, dan batu bara bakal memanas 26% yoy pada 2017 dan 8% yoy pada 2018. Harga gas alam bakal bertumbuh 15% pada tahun ini, sedangkan batu bara meningkat 6%.

World Bank juga menaikkan proyeksi pertumbuhan harga logam menjadi 16% yoy pada 2017, dibandingkan laporan medio Januari 2017 yang menyebutkan kenaikan 11% yoy. Hal ini dipicu oleh langkah pengetatan pasokan, serta permintaan yang kuat dari China dan sejumlah negara maju lainnya.

"Selain itu, ada kendala pasokan dari sejumlah tambang di Indonesia, Cile, dan Peru," ujar John Baffes, Ekonom Senior dan penulis utama Commodity Markets Outlook World Bank.

Harga logam mulia bakal terkoreksi 1% yoy karena kenaikan suku bunga acuan yang melambatkan permintaan safe haven. Seperti diketahui, Federal Reserve berencana mengerek suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017.

Tahun ini, rerata harga emas diprediksi senilai US$1.225 per troy ounce dan 2018 seharga US$1.206 per troy ounce. Pada 2016, nilai jual batu kuning mencapai US$1.249 per troy ounce.

Sementara itu, harga komoditas pertanian secara keseluruhan diperkirakan meningkat 4% yoy pada 2017. Namun, harga tanaman kebun untuk minuman seperti kopi, kakao, dan teh dapat menurun lebih dari 6%.

Tag : komoditas, world bank
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top