Permintaan Minyak Melambat, Produsen Diminta Bersabar

Permintaan minyak global pada tahun ini diperkirakan melambat dengan hanya bertumbuh sebesar 1,4 juta barel per hari, setelah pada tahun lalu permintaan minyak global tumbuh 1,6 juta barel per hari.
Lukas Hendra TM | 15 Maret 2017 20:40 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan minyak global pada tahun ini diperkirakan melambat dengan hanya bertumbuh sebesar 1,4 juta barel per hari, setelah pada tahun lalu permintaan minyak global tumbuh 1,6 juta barel per hari.

International Energy Agency (IEA) mengungkapkan indikasi awal dari perlambatan permintaan minyak tersebut terjadi pada kuartal I tahun ini, dimana permintaan dari Jepang, Jerman, Korea dan India menurun pada Januari.

Padahal, dalam laporan minyak bulanan (Oil Market Report) Maret, IEA mengungkapkan pasokan minyak global pada Februari meningkat 260.000 barel per hari seiring dengan OPEC dan nonOPEC yang memompa lebih banyak minyak.

Pada Februari, produksi minyak global tercatat 96,52 juta barel per hari atau turun 170.000 barel per hari secara tahunan (year-on-year/y-o-y). OPEC mencatat memang adanya penurunan produksi secara tahunan pada dua bulan pertama 2017. Kendati demikian, nonOPEC menargetkan peningkatan produksi sebesar 400.000 barel per hari pada 2017 menjadi 58,1 juta barel per hari.

Sepanjang Februari, harga minyak berada di level ketat antara US$55 per barel hingga US$56 per barel. Sebelum akhirnya terpangkas lebih dari US$3 per barel pada 8 -9 Maret 2017.

IEA mengungkapkan para produsen minyak tampaknya nyaman dengan harga minyak mentah Brent di level kurang dari US$55 per barel. Salah satu alasan pendorong penurunan adalah Amerika Serikat yang meningkatkan stok minyak mentah mereka sesuai dengan data mingguan yang dipublikasikan Energy Information Adminitration (EIA).

Pasar, menurut IEA masih berurusan dengan sebagian besar pasokan pada masa lalu sehingga membutuhkan waktu untuk bisa bekerja pada sistem. Sementara, pertumbuhan permintaan belum memberikan dukungan lebih lanjut dalam tiga bulan 2017.

“Outlook tahunan kami untuk 2017 tetap tidak berubah dengan permintaan diperkirakan akan tumbuh dengan sehat sebesar 1,4 juta barel per hari, meskipun dalam rata-rata tahunan kami merevisi turun perkiraan pertumbuhan kuartal I/2017 sebesar 300.000 barel per hari dan merevisi naik proyeksi kami untuk kuartal IV/2017 dengan jumlah yang sama,” tulis IEA dalam laporan mereka yang dipublikasikan, Rabu (15/3/2017).

IEA mengungkapkan di luar kegelisahan tentang pasokan dan kekhawatiran tentang meningkatnya produksi saat ini dari beberapa negara non-OPEC warisan ini, pelaksanaan perjanjian produksi OPEC terlihat pada bulan Februari telah mempertahankan solidnya kesepakatan yang terlihat pada Januari.

Selama dua bulan pertama dari kesepakatan tingkat kepatuhan rata-rata 98%, meskipun angka ini sangat dipengaruhi oleh Arab Saudi yang tingkat jauh lebih tinggi pada 135%. Sebelas negara-negara non-OPEC yang berjanji untuk memotong produksi 558.000 barel per hari belum tampak.

Rusia yang memiliki lebih dari setengah pengurangan total non-OPEC, telah secara konsisten mengatakan bahwa pemotongan yang akan dilakukan secara bertahap, dan ini juga terjadi untuk beberapa negara lainnya.

“Sementara, kami memperkirakan bahwa negara-negara non-OPEC telah memangkas produksi sebesar 37% dari komitmen mereka dalam dua bulan pertama tahun ini,” tulis IEA.

IEA sendiri tidak memprediksi produksi OPEC, tetapi jika tingkat produksi saat ini dipelihara hingga Juni ketika kesepakatan berakhir, maka ada defisit pasar sebanyak 500.000 barel per hari untuk Semester I/2017. Defisit tersebut terjadi dengan asumsi tentu saja tidak ada perubahan di tempat lain baik dari sisi pasokan maupun permintaan.

“Maka bagi mereka yang tengah mencari kesimbangan kembali pasar minyak, pesannya adalah mereka harus bersabar. Sementara itu, volatilitas yang tiba-tiba pecah pekan lalu mungkin akan terulang,” tulis IEA.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top