Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PROYEKSI WORLD BANK 2017: Harga Minyak Memanas, Emas Kusam

Bank Dunia menaikkan perkiraan harga minyak mentah pada 2017 ke level US$55 per barel dari sebelumnya US$53 per barel setelah anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) bersiap membatasi produksi
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 21 Oktober 2016  |  07:25 WIB
Emas. - .Bisnis/Abdullah Azzam
Emas. - .Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Bank Dunia menaikkan perkiraan harga minyak mentah pada 2017 ke level US$55 per barel dari sebelumnya US$53 per barel setelah anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) bersiap membatasi produksi.

Secara keseluruhan, harga komoditas energi yang meliputi minyak mentah, gas alam, dan batu bara diproyeksikan untuk tumbuh 25% pada tahun depan. Peningkatan ini melebihi perkiraan Bank Dunia dalam laporan Outlook Pasar Komoditas yang dilansir Juli 2016.

Meskipun cemerlang pada tahun depan, rerata harga minyak mentah 2016 masih sama seperti laporan sebelumnya, yakni senilai US$43 per barel.

John Baffes, Senior Economist dan penulis utama Commodity Markets Outlook World Bank, mengatakan timnya memprediksi adanya kenaikan yang solid dalam harga energi pada tahun depan, yang dipimpin oleh minyak mentah.

"Namun, masih ada ketidakpastian yang cukup besar, karena kami menunggu rincian dan implementasi perjanjian OPEC. Jika ini dilakukan niscaya sangat memengaruhi pasar minyak," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (21/10/2016) WIB.

Baffes mengatakan adanya sedikit pemulihan sebagian besar komoditas pada 2017 karena permintaan menguat, sedangkan persediaan semakin mengetat.

Harga logam dan mineral diperkirakan meningkat 4,1% pada 2017, meningkat 0,5% dari laporan sebelumnya karena berkurangnya pasokan. Harga seng diperkirakan meningkat lebih dari 20% menyusul penutupan sejumlah tambang besar dan penurunan produksi dibandingkan 2016.

Sementara itu emas sebagai primadona diprediksi sedikit menurun pada tahun depan menuju US$1.219 per ons karena peningkatan suku bunga. Alhasil minat investor terhadap batu kuning sebagai aset haven mulai surut.

Harga komoditas agrikultur akan meningkat 1,4% pada 2017, sedikit turun dari proyeksi Juli lalu. Harga makanan naik secara bertahap sebesar 1,5%, sedangkan minuman 0,6% karena jumlah produksi kopi yang lebih besar.

Di antara harga pangan, komoditas biji-bijian diperkirakan naik 2,9% tahun depan. Sementara minyak nabati hanya akan bertumbuh kurang dari 2%.

Ayhan Kose, Director of the World Bank’s Development Prospects Group, menuturkan rendahnya harga komoditas akan memukul ekspor dari negara berkembang. Meskipun demikian, hal ini maish positif karena harga komoditas sudah bangkit dari level terendahnya.

"Pembuat kebijakan harus mengejar strategi untuk meningkatkan pertumbuhan, seperti investasi di infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan dalam konteks rencana fiskal jangka menengah," ujarnya.

Sebagai informasi, World Bank’s Commodity Markets Outlook dirilis secara triwulan pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Laporan ini memberikan analisis perihal pasar komoditas utama dalam kelompok-kelompok, seperti energi, logam, agrikultur, logam mulia, dan pupuk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas bank dunia
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top