Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

JBIC: RI Dipercaya Pasar Terbitkan Samurai Bonds Tanpa Jaminan

Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menilai Indonesia sudah cukup dipercaya pasar untuk menerbitkan samurai bonds tanpa jaminan.
Ardhanareswari AHP
Ardhanareswari AHP - Bisnis.com 21 Januari 2015  |  01:09 WIB
Surat utang - ilustrasi
Surat utang - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menilai Indonesia sudah cukup dipercaya pasar untuk menerbitkan samurai bonds tanpa jaminan.

“Kami yakin Indonesia sudah bisa menuju penerbitan tanpa jaminan, tetapi memang saat ini kondisi ekonomi global tidak terlalu stabil jadi harus lebih mempertimbangkan waktu penerbitannya,” ungkap Gubernur JBIC Hiroshi Watanabe di Gedung Kementerian Keuangan, Selasa (20/1/2015).

Lebih lanjut Watanabe menuturkan bulan ini misalnya pemerintah terutama harus memperhatikan dampak pemilihan umum sela di Yunani pada 25 Januari yang bisa mempengaruhi sentimen dan pergerakan pasar keuangan.

Dia lantas mengungkapkan, dalam waktu dekat Indonesia bisa mengikuti jejak Meksiko yang sudah lebih dahulu menerbitkan samurai bonds tanpa jaminan dari JBIC.

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pemerintah menuturkan niatnya untuk menerbitkan samurai bonds tanpa jaminan untuk pertama kalinya pada 2015. Pada pemaparan akhir tahun lalu, dari total samurai bonds yang diterbitkan pemerintah memproyeksikan 80% obligasi dengan jaminan JBIC sedangkan 20% tanpa jaminan.

Pada kesempatan yang sama, Menkeu Bambang Brodjonegoro mengungkapkan optimismenya tentang pasar samurai bonds. “Kita sudah beberapa kali muncul [emisi samurai bonds] jadi sudah bisa diterima pasar,” ungkapnya.

Dia menuturkan, pemerintah akan mengoptimalkan potensi pasar keuangan Negeri Sakura. Pasalnya saat ini otoritas moneter setempat, yakni Bank of Japan (BoJ) tengah melonggarkan habis-habisan likuditas untuk mengungkit pertumbuhan dengan program stimulus moneter.

Jelang akhir tahun lalu, BoJ bahkan berencana menambah kucuran stimulusnya dari sekitar 60-70 triliun yen menjadi sekitar 80 yen atau sekira US$730 miliar per tahun. Watanabe menuturkan dalam sejarahnya sejumlah pemerintah negara berkembang, termasuk Indonesia meminta jaminan pada JBIC agar investor menaruh kepercayaan dan menumbuhkan minat pada surat utang yang diterbitkan pemerintah terkait.

Sementara itu, jika pemerintah merealisasikan rencana emisi samurai bonds—yang dikabarkan diterbitkan pada semester I tahun ini—dengan demikian penerbitan tersebut akan menjadi emisisamurai bonds ke-4 bagi pemerintah Indonesia.

Pada 2009, pemerintah menerbitkan samurai bonds untuk pertama kalinya dengan nilai 35 miliar yen atau sekitar US$294 juta dengan tenor 10 tahun. Emisi kedua dilakukan pada 2010 sebesar 60 juta yen yang bertenor 10 tahun.

Dua tahun kemudian, pemerintah menerbitkan obligasi serupa dengan nilai 60 juta yen. Tahun lalu, pemerintah sebenarnya berencana mengeluarkan samurai bonds tetapi batal.

Adapun, samurai bonds adalah salah satu dari empat instrumen pembiayaan defisit fiskal yang direncakana dalam rancangan APBNP 2015, selain global bonds, sukuk global, dan euro bonds. Pembiayaan yang bersumber dari emisi obligasi valas ini direncakan maksimal 20% terhadap total kebutuhan pembiayaan.

Sementara itu, dalam Nota Keuangan RAPBN 2015 pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar 1,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau menciut dari APBN 2015 sebesar 2,21%. Dengan demikian total kebutuhan pembiayaan turun dari Rp245,9 triliun menjadi Rp225,9 triliun. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indonesia jbic bonds samurai bonds
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top