Bisnis.com, JAKARTA—Harga Nikel menguat hingga hari ketiga ke level tertinggi dalam 14 bulan akibat munculnya kekhawatiran ketegangan di Ukraina akan mengganggu suplai dari Rusia di tengah pemberlakuan larangan ekspor bijih mineral dari Indonesia.
Kontrak untuk pengiriman 3 bulan di bursa London menguat hingga 1,9% menjadi US$18.260 per metrik ton. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak Februari 2013 dan tercatat US$18.130 pada pukul 10.26 waktu Tokyo atau pukul 08.26 WIB. Harga logam tersebut dilaporkan naik 31% tahun ini.
Kesepakatan antara Rusia dan Ukraina nyaris gagal setelah bentrokan di wilayah timur negara itu memanas akhir pekan lalu. Sementara itu, Indonesia kemungkinan besar tidak akan mengendorkan kebijakan melarang ekspor bijih mineral.
“Meningkatnya ketegangan di Ukraina kian membuat harga Nikel menguat,” ujar Hwang Il Doo, pedagang logam pada Korea Exchange Bank Futures Co. sebagaimana dikutip Bloomberg, Selasa (22/4/2014). Kalangan investor juga akan mengawasi perkembangan sektor manufaktur China besok.