Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rupiah Melemah, Intervensi BI Harus Cermat

Bisnis.Com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini berfluktuasi dalam tren pelemahan dapat terus berlanjut jika intervensi Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral tidak cermat dan membuat rupiah dijauhi para pelaku valas global.
Giras Pasopati
Giras Pasopati - Bisnis.com 09 Juli 2013  |  17:47 WIB

Bisnis.Com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini berfluktuasi dalam tren pelemahan dapat terus berlanjut jika intervensi Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral tidak cermat dan membuat rupiah dijauhi para pelaku valas global.

Pada Selasa (9/7), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot 0,27% menjadi Rp9.983 menurut versi Bloomberg. Sementara kurs tengah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia tidak berubah di level Rp9.960 per dolar AS.

Riset dari Credit Suisse menyatakan, pihaknya memperkirakan bahwa Bank Indonesia menjual US$7,3 miliar cadangan mata uang asing pada Juni untuk mengatasi pelemahan rupiah.

Menurut bank tersebut, hal itu adalah penurunan bulanan terbesar dalam cadangan mata uang asing di Indonesia sejak September 2011. Bank sentral di kawasan Asia lainnya juga melakukan intervensi terhadap mata uang mereka pada Juni.

Credit Suisse menyebutkan, berdasarkan data, bank sentral India dan Indonesia menonjol untuk ukuran intervensi mereka. Namun, dilihat secara historis, Indonesia jelas telah jauh lebih agresif dalam melakukan intervensi mata uang.

“Kami telah melakukan konstruksi pada pergerakan rupiah, tapi kemudian menjadi khawatir bahwa pertahanan bank sentral yang dogmatis di level 10.000 semakin kehilangan kontak dengan lingkungan pasar valas global,” tulisnya dalam riset, Senin (8/7/2013).

Terhadap latar belakang kepanikan di pasar mata uang lokal Indonesia saat ini, hal itu sendiri didorong oleh pelaku pasar domestik. “Kami pikir BI perlu menaikkan setidaknya 50 bps suku bunga pada minggu ini dan mengatur USD/IDR hingga 10.100-10.300 untuk mulai menstabilkan pasar,” seperti ditulis pihak Credit Suisse dalam riset.

Lukman Leong, analis PT Platon Niaga Berjangka mengatakan, tekanan terhadap rupiah belakangan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut. Faktor internal dan eksternal secara berbarengan masih kurang bersahabat terhadap rupiah.

“Dari sisi internal, faktor utama adalah tekanan inflasi tinggi dan defisit neraca perdagangan,” ujarnya pada Bisnis, Selasa (9/7).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan Chatib Basri pada pernyataan sebelumnya juga memberikan kesan kalau otoritas mungkin tidak akan terlalu memaksakan rupiah untuk dibawah 10,000.

“Sikap otoriter disebabkan oleh cadangan devisa yang berada dibawah US$100 miliar serta keenganan untuk menaikan suku bunga. Tanpa usaha intervensi dari BI, maka diperkirakan rupiah akan dengan mudah menembus level 10.000 dalam waktu dekat ini,” ucapnya.

Zulfirman Basir, analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, pada grafik harian, pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih terjaga seiring pergerakan terperangkap di dalam channel bullish bagi dolar.

“Dari sisi fundamental, stabilnya harga minyak dunia di atas $100 akan kembali membuat investor cemas dengan masih akan buruknya performa neraca perdagangan Indonesia,” kata Zulfirman dalam analisa, Selasa (9/7/2013).

Kinerja rupiah juga masih dibayangi oleh kekhawatiran potensi pengurangan stimulus moneter Federal Reserve dan perlambatan ekonomi Cina.

“Sulit mengharapkan penguatan mata uang Indonesia yang berkelanjutan. Level Rp10.075 dan Rp10.170 merupakan resisten. Sementara Rp9.925 dan Rp9.845 akan menjadi support. Rupiah mungkin akan diperdagangkan di kisaran 9.925 hingga 10.075,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nilai tukar Gonjang Ganjing Rupiah bank indonesia kurs dolar as
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top