Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KINERJA EMITEN: Harga Nikel Lemah, Pendapatan Vale Anjlok 31%

JAKARTA -- Produsen nikel PT Vale Indonesia Tbk mencatat penurunan pendapatan 31% sepanjang 9 bulan pertama tahun ini akibat pelemahan harga global.Berdasarkan siaran pers yang dipublikasi Selasa (30/10), emiten berkode INCO itu mencatat penjualan US$693,69

JAKARTA -- Produsen nikel PT Vale Indonesia Tbk mencatat penurunan pendapatan 31% sepanjang 9 bulan pertama tahun ini akibat pelemahan harga global.Berdasarkan siaran pers yang dipublikasi Selasa (30/10), emiten berkode INCO itu mencatat penjualan US$693,69 juta selama 9 bulan pertama 2012, turun dari US$1,06 miliar pada periode sama tahun lalu.Volume penjualan nikel sebanyak 50.611 metrik ton, turun dibandingkan 51.211 metrik ton pada periode sama tahun lalu. Di saat yang sama, produksi nikel juga turun menjadi 49.41 metrik ton, dibandingkan 53,17 metrik ton."Harga pokok penjualan meningkat 12% menjadi US$596 juta dibandingkan US$532 juta akibat kenaikan biaya kontrak, jasa, dan karyawan," ujar Fabio Bechara, Director & Chief Financial Officer Vale Indonesia, dalam siaran pers itu, Selasa (30/10)Oleh sebab itu, laba kotor perseroan menyusut menjadi US$97,59 juta sepanjang Januari-September 2012, dibandingkan US$473,60 juta pada periode sama tahun lalu.EBITDA pada sembilan bulan pertama di tahun 2012 mencapai US$124,3 juta, anjlok 75% dibandingkan US$500,8 juta pada periode yang sama di tahun 2011.Penurunan EBITDA terutama disebabkan oleh rendahnya harga realisasi rata-rata yang tercatat US$13.706 per metrik ton, merosot 29% dari US$19.323 per metrik ton pada periode sama tahun lalu.Laba periode berjalan menyusut menjadi US$28,94 juta untuk 9 bulan pertama 2012, dibandingkan US$319,86 juta pada periode sama 2011.Analis AM Capital Janson Nasrial mengatakan penurunan kinerja keuangan tersebut wajar karena permintaan global tengah melemah sehingga harga nikel anjlok."Tren sektor industri di India, China dan Brasil mengalami pelemahan yang terlihat dari penurunan purchasing manager index (PMI)," ujarnya ketika dihubungi Bisnis.Menurutnya, produsen logam sangat bergantung pada kinerja industri terutama elektronik dan otomotif yang secara global saat ini sedang lesu.  (if) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nurul Hidayat

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper