Penurunan harga emas berlanjut

JAKARTA: Harga emas melanjutkan penurunan karena investor menjual logam untuk mendapatkan uang tunai. Hal itu terjadi seiring harga berbagai komoditas, termasuk minyak dan tembaga, jatuh di tengah kekhawatiran para pemimpin Eropa mungkin gagal untuk
News Editor
News Editor - Bisnis.com 28 September 2011  |  14:09 WIB

JAKARTA: Harga emas melanjutkan penurunan karena investor menjual logam untuk mendapatkan uang tunai. Hal itu terjadi seiring harga berbagai komoditas, termasuk minyak dan tembaga, jatuh di tengah kekhawatiran para pemimpin Eropa mungkin gagal untuk mengatasi krisis utang regional.Bisnis mencatat sejak pagi tadi emas bergerak fluktuatif dengan kecenderungan turun. Harga emas spot turun 1,1% menjadi US$1.632,05 per troy ounce dan diperdagangkan pada US$1.645,88 pukul 12:24 waktu Singapura.  Penurunan harga emas lantakan terjadi sebelum laporan data pembelian barang tahan lama AS yang diprediksi ekonom akan turun. Selain itu kepercayaan konsumen Eropa pada September juga diduga merosot ke level terendah dalam 2 tahun."Penurunan harga baru-baru ini karena pasar yang terpuruk dan beberapa investor harus menjual emas mereka untuk memenuhi persayratan margin perdagangan," kata Dick Poon, manajer trader logam mulia manajer di Heraeus Ltd., hari ini.Dia menambahkan situasi utang di Eropa tidak berubah dan seiring apa yang terjadi belakangan ini dia memperkirakan permintaan yang kuat terhadap emas akan memberi dukungan harga.Harga emas untuk pengiriman Desember melanjutkan penurunan, berjalan terbalik dengan penguatan dolar. Kontrak berjangka itu melemah 1,2% menjadi US$1.633,20 per ounce di New York sebelum diperdagangkan pada $ 1.648 per ounce."Satu-satunya sentimen negatif untuk emas adalah reli dolar AS baru-baru ini," tulis analis Daiwa Capital Markets.  Mereka juga mengungkapkan bahwa semangat untuk membeli logam saat harga turun tajam masih sangat besar.Kepala Riset Real Times Futures Wahyu T. Laksono menyarankan beli pada harga US$1.634-US$1.630 per ounce dengan target kenaikan ke US$1.660 per ounce. Kembali beli jika harga tembus level US$1.678 per ounce."Jika harga tembus di bawah US$1.610, saya pilih tidak beli sampai kita mendapat sinyal yang lebih jelas," tulisnya dalam proyeksi harian yang dikirim kepada Bisnis. (Taufikul Basari/Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top