Tren harga emas naik

JAKARTA: Harga emas berpotensi melanjutkan tren kenaikan untuk jangka panjang seiring masih terdapatnya sejumlah ketidakpastian ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 12 Desember 2010  |  08:06 WIB

JAKARTA: Harga emas berpotensi melanjutkan tren kenaikan untuk jangka panjang seiring masih terdapatnya sejumlah ketidakpastian ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat.

Namun untuk jangka pendek, emas sudah jenuh beli dan rawan aksi ambil untung. Aksi ambil untung mulai terlihat pada perdagangan akhir pekan, yakni harga emas dunia melemah menyusul langkah pemerintah China yang menaikkan rasio kecukupan modal perbankan dan diikuti aksi ambil untung investor menyusul data AS yang menunjukkan kepercayaan konsumen meningkat dan defisit perdagangan yang menyusut.Pada pekan ini, harga emas turun 2,1% yang merupakan penurunan mingguan terbesar dalam hampir 2 bulan terakhir. Harga spot emas pada perdagangan akhir pekan turun 0,1% ke US$1.385,92 per ounce. Untuk kontrak pengiriman Februari, harga emas turun 1,2% menjadi US$1.376,10 per ounce di Comex New York.Analis Riset Valbury Asia Futures Rekhmen mengatakan cenderung merosotnya harga obligasi di pasar treasury AS dan membaiknya rilis data ekonomi AS, seperti kenyamanan konsumen dan defisit perdagangan, yang memberikan dukungan untuk dolar AS, sehingga memicu aksi ambil untung emas setelah menyentuh rekor tertinggi.Selain itu, faktor pemicu tekanan emas, yang kembali berkembang di akhir pekan, juga dipicu oleh putusan China menaikkan cadangan perbankannya sebesar 50 basis poin (bps).Ini merupakan salah satu bentuk pengetatan moneter, yang biasanya cenderung memberikan dampak negatif untuk komoditas emas sebagai sarana lindung nilai mengantisipasi lonjakan inflasi, kata Rekhmen dalam riset hariannya yang diterima Bisnis pada Minggu.Pada tahun ini harga emas mencatat kenaikan 27% dan mencapai rekor tertingginya US$1.432,50 per ounce pada 7 Desember 2010.Kenaikan ini didorong peran emas sebagai aset teraman di tengah ketidakpastian global yang meliputi kekhawatiran krisis Eropa dan AS. Bahkan rangkaian penguatan emas ini berlanjut hingga pekan lalu, ditandai dengan kenaikan yang mencapai rekor tertinggi barunya.Namun menjelang tutup tahun, biasanya minim volume perdagangan karena banyak perusahaan trading maupun investor yang sudah tidak aktif bertransaksi, sehingga berpotensi memicu volatilitas tinggi pada pergerakan harga emas. Kondisi ini juga akan mendukung aksi ambil untung emas dari penguatannya sepanjang tahun ini sehingga dalam jangka pendek harga rawan terkoreksi, katanya.Rekhmen menambahkan untuk jangka panjang, jika ketidakpastian di Eropa ataupun di AS masih berkembang, serta negara-negara global masih cenderung melanjutkan paket stimulus moneter, kondisi ini akan kembali mendongkrak harga emas.Analis Askap Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan harga emas yang sempat menyentuh rekor memberikan indikasi sudah mengalami jenuh beli (overbought), bahkan terancam mengalami koreksi.Selama harga emas gagal menembus level US$1.430,90 per ounce, akan membawa harga berada pada posisi netral dan memasuki fase konsolidasi dalam beberapa waktu ke depan di antara level US$1.430 dan US$1.314, kata Wahyu.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top