Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Cetak Rekor Baru di Awal Tahun, Nasdaq Tembus 7.000

Sejumlah indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berhasil berakhir menguat di rekor tertinggi barunya pada perdagangan hari pertama pasca libur Tahun Baru, Selasa (2/1/2018).
Wallstreet/Reuters
Wallstreet/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berhasil berakhir menguat di rekor tertinggi barunya pada perdagangan hari pertama pasca libur Tahun Baru, Selasa (2/1/2018), dengan Nasdaq untuk pertama kalinya menembus level 7.000, ditopang optimisme investor atas penguatan pasar di tahun 2018.

Indeks Nasdaq Composite ditutup menanjak 1,5% atau 103,51 poin di level 7.006,90, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,42% atau 104,79 poin di level 24.824,01, dan indeks S&P 500 berakhir menguat 0,83% atau 22,18 poin di 2.695,79.

Indeks S&P 500 juga berakhir di rekor tertingginya, didorong saham teknologi. Sektor konsumen, kesehatan, energi, dan bahan baku juga naik lebih dari 1%.

Saham Apple, Facebook, Alphabet, dan Microsoft mendongkrak indeks teknologi naik 1,4%, menyusul kenaikan sebesar 37% pada 2017 yang menjadikannya sektor pada S&P dengan kinerja terbaik.

Ketiga indeks saham acuan tersebut telah menutup 2017 dengan kinerja terbaiknya sejak 2013. Banyak investor mengatakan bahwa reli dapat berlanjut tahun ini dengan bantuan dari perumusan ulang pajak AS yang baru-baru ini disetujui yang diharapkan dapat mendorong laba dan perekonomian.

“Saya tidak mengharapkan jenis pergerakan yang kita lihat tahun lalu, tapi selama kebijakan moneter tetap seperti itu, pandangan saya adalah saham akan mengalami tahun yang baik,” ujar Stephen Massocca, senior vice president di Wedbush Securities.

“Dan kebijakan fiskal telah menjadi stimulatif, juga undang-undang pajak,” tambahnya, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (3/1/2018).

Sementara itu, saham energi naik meski harga minyak turun. Harga minyak bergerak di kisaran level tertingginya pada pertengahan 2015 di tengah aksi protes anti-pemerintah besar pada eksportir utama minyak Iran serta berlanjutnya pemangkasan suplai yang dipimpin oleh OPEC dan Rusia. Indeks energi S&P pun naik 1,8%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper