Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadinya deflasi sebesar 0,08% secara bulanan pada Agustus 2025. Kendati begitu, analis menilai bahwa sektor konsumer masih prospektif hingga penghujung 2025.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menerangkan, deflasi yang terjadi pada Agustus 2025 wajar terjadi sebab didorong oleh tingkat permintaan domestik yang lesu.
Namun, Nafan menegaskan, dampak deflasi terhadap emiten-emiten konsumer cenderung parsial. Terhadap ICBP dan INDF misalnya, Nafan lebih menyoroti ihwal downtrend yang tengah dialami kedua emiten Anthoni Salim itu ketimbang deflasi yang menantang.
Adapun sepanjang tahun berjalan, ICBP mengalami penurunan harga hingga 19,12% YtD ke level Rp9.200 per lembar. Hal yang sama juga dialami oleh INDF yang tengah mencatatkan kinerja yang melemah sebesar 3,90% YtD ke level Rp7.400 per lembar.
Terhadap ICBP, sejumlah analis lain menilai bahwa kinerjanya lebih terpengaruh oleh tekanan margin pada segmen mi karena tingginya harga CPO dan minyak goreng.
“Jadi memang disarankan untuk terlebih dahulu untuk wait and see, sambil misalnya, kalau secara teknikal sudah mulai membaik,” kata Nafan kepada Bisnis, Senin (1/9/2025).
Baca Juga
Selain deflasi, Nafan menilai bahwa kinerja emiten konsumer sebetulnya memiliki sejumlah katalis positif, seperti ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan. Dengan begitu, menurut Nafan, sektor konsumer justru masih prospektif hingga paruh kedua 2025.
Namun untuk saat ini, deflasi dan ketidakstabilan politik yang tengah terjadi di Indonesia dinilai menjadi salah satu penantang kinerja emiten konsumer dalam negeri.
“Jika dengan adanya faktor stabilitas politik dan keamanan, tentunya bisa menjamin terjadinya stabilitas pertumbuhan ekonomi kita ke depan,” tambah Nafan.
Di sektor ini, Nafan merekomendasikan saham JPFA dengan target harga Rp1.630, SIDO di target harga Rp550, hingga ERAA dengan target harga Rp468 per lembar.
Sebelumnya, BPS mengumumkan terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 108,51 pada Agustus 2025.
"Untuk inflasi pada Agustus 2025 terjadi deflasi sebesar 0,08% secara bulanan," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini melalui siaran virtual, Senin (1/9/2025).
Sementara itu, secara tahunan atau year on year terjadi inflasi sebesar 2,31% dan secara tahun kalender atau year to date (ytd) terjadi inflasi 1,6%.
Adapun, Indonesia sempat mengalami deflasi beruntun pada Mei—September 2024, lalu kembali terjadi deflasi pada Januari, Februari, dan Mei 2025.