Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Ramalan Nasib Saham Batu Bara Hadapi Sengatan Pensiun Dini PLTU
Lihat Foto
Premium

Ramalan Nasib Saham Batu Bara Hadapi Sengatan Pensiun Dini PLTU

Saham-saham batu bara Indonesia tidak luput dari sentimen program pensiun dini PLTU yang tengah digaungkan oleh pemerintah.
M. Nurhadi Pratomo, Nyoman Ary Wahyudi, & Mutiara Nabila
M. Nurhadi Pratomo, Nyoman Ary Wahyudi, & Mutiara Nabila - Bisnis.com
19 Oktober 2022 | 18:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA —  Ketangguhan saham-saham batu bara Indonesia akan diuji di tengah kebijakan pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Indonesia tengah serius memacu transisi energi. Salah satu langkah yang ditempuh dengan memensiunkan sejumlah PLTU berbasis batu bara.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahkan secara terbuka mengajak pengusaha dan lembaga keuangan untuk berkolaborasi membantu pembiayaan transisi energi. Misi transisi energi Indonesia memang membutuhkan dana jumbo. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengungkapkan dibutuhkan setidaknya dana US$1 triliun pada 2060 untuk investasi energi terbarukan. Nilai itu berpotensi makin meningkat seiring dengan program pensiun dini PLTU.

Dia menggambarkan dana besar dalam program pensiun dini PLTU dibutuhkan untuk kewajiban membayar kembali pinjaman dan bunga kepada para pengembang pembangkit listrik tersebut.

“Pembiayaan transisi energi semakin meningkat, karena kami akan menerapkan pensiun dini pembangkit listrik tenaga batu bara,” ujarnya pekan lalu.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
Berlangganan Sekarang
back to top To top