Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Tersandung Korupsi hingga Status Perusahaan, Restrukturisasi Garuda GIAA Dibayangi Risiko Bangkrut atau Pailit?
Lihat Foto
Premium

Tersandung Korupsi hingga Status Perusahaan, Restrukturisasi Garuda GIAA Dibayangi Risiko Bangkrut atau Pailit?

Serangkaian sentimen negatif menyelimuti PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), terutama proses hukum perniagaan yang membuat perusahaan harus berjuang untuk bangkit kembali.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com
29 November 2021 | 19:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Proses penyelamatan emiten penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) terus dilakukan oleh pemerintah. Hal itu tak lepas dari kondisi salah kelola yang dialami oleh maskapai nasional tersebut.

Kondisi itu membuat GIAA terpaksa harus berada pada posisi terjepit dan boleh dikatakan mendekat titik nadir. Serangkaian gugatan dan permohonan pembayaran utang oleh perusahaan mitra pun berdatangan silih berganti.

Terdekat, GIAA besok, Selasa (30/9/2021) akan kembali ‘masuk’ ke meja hijau guna menghadapi proses hukum terkait dengan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang diajukan oleh PT Mitra Buana Koorporindo (MBK).

Adapun, keterpurukan yang dialami oleh GIAA diakui oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Tohir. Dalam pidatonya di Orasi Ilmiah di Universitas Brawijaya, Sabtu (27/11/2021) dia menilai bisnis model yang sudah salah sejak lama menjadi penyebab utama kerugian Garuda Indonesia. 

Dia mengatakan penerbangan di Indonesia memiliki potensi pasar yang besar. Namun, ekspansi yang dilakukan tidak tepat, terutama di pasar domestik dan luar negeri. Tidak hanya terkait pembukaan jalur penerbangan, namun juga ekspansi dalam hal pembelian atau sewa pesawat. Bahkan dia menyebutkan bahwa GIAA bisnis tersandung lantaran adanya korupsi di tubuh perusahaan.

"Domestic market kita [sebenarnya] cukup kuat, tapi kita tergoda keluar terus, karena enak dilayani. Akhirnya sama, pembelian pesawat pun dikorupsi. Biaya leasing pesawat kita itu mencapai 28 persen. [Padahal] Rata-rata leasing pesawat Etihad Airways, Qatar Airways dan Singapura Airlines hanya 8 persen," papar Erick seperti dikutip Senin (29/11/2021).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Berlangganan Sekarang
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
back to top To top