Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kondisi Pasar Tak Surutkan Minat Pendanaan via Bursa pada Kuartal II

Selama sebulan pertama kuartal II/2021, tercatat ada 4 perusahaan yang mencatatkan dirinya di Bursa Efek Indonesia.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 29 April 2021  |  06:31 WIB
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Awan mendung yang kembali menaungi pasar modal pada kuartal II/2021 tak menyurutkan para calon emiten meraih pendanaan melalui penawaran umum perdana.

Selama sebulan pertama kuartal II/2021, tercatat ada 4 perusahaan yang mencatatkan dirinya di Bursa Efek Indonesia. Sebelumnya pada kuartal I/2021 terdapat 11 perusahaan tercatat baru yang melantai.

Rencana IPO pada kuartal II/2021 ini pun masih terbilang ramai. Beberapa emiten telah mengumumkan proses penawaran umumnya bahkan hingga tanggal pencatatan di BEI.

Salah satu yang paling dekat adalah pemilik dan pengelola kelab malam Lucy in the Sky PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. yang telah mendapatkan pernyataan efektif dan siap melantai di Bursa pada 5 Mei 2021 mendatang.

Mengekor, ada perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan produksi baja PT Ladangbaja Murni Tbk. yang sedang dalam masa penawaran awal atau bookbuilding pada 26—30 April 2021 ini.

Kemudian ada produsen tisu basah bermerek Wetkins yakni PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk. yang telah memasuki periode bookbuilding pada tanggal 15 - 19 April 2021 lalu, tapi menunda pencatatan sahamnya hingga awal Juni mendatang.

Direktur Victoria Sekuritas Wisnu Widodo mengatakan kondisi pasar belakangan memang kembali cukup menantang. Namun, menurutnya hal tersebut sejauh ini belum terlalu berpengaruh pada perkembangan proses IPO calon emiten yang dipegangnya.

“Kami lihat market agak tough cuma proyek sih terus berjalan,” kata penjamin emisi PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk. ini ketika dihubungi Bisnis, Rabu (28/4/2021).

Menurutnya, banyak kebijakan baru yang menguntungkan proses penggalangan dana melalui skema penawaran umum saham perdana saat ini sehingga Wisnu tetap optimistis rencana mandat yang dikantonginya berjalan sesuai rencana.

Salah satu kebijakan yang dinilai menjadi katalis positif adalah pemberlakuan elektonik IPO atau e-IPO. Wisny menilai pelaksanaan e-IPO dapat membuka gerbang yang luas bagi investor, khususnya ritel untuk berpartisipasi di pasar IPO.

“Jadi, ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan. Dengan dibukanya e-IPO jadi ada kesempatan lebih luas,” kata dia.

Dia mengatakan saat ini Victoria Sekuritas mengantongi setidaknya 3 mandat IPO yakni masing-masing satu perusahaan bidang produsen hygiene product, perusahaan bidang food and beverage, dan perusahaan asuransi.

Paling dekat adalah proses IPO PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk. yang direncanakan dapat memperoleh penyataan efektif per akhir Mei 2021 dan dapat tercatat di BEI pada awal Juni 2021 mendatang.

Adapun untuk dua perusahaan lainnya masih dalam proses dan diharapkan dapat melantai di paruh kedua tahun ini.

Selain mandat IPO, Victoria Sekuritas juga mengantongi sejumlah mandat aksi korporasi lain seperti Penambahan Modal Tanpa HMETD atau private placement dan rights issue untuk semester II/2021.

Senada, Presiden Direktur BCA Sekuritas Mardy Sutanto juga menilai kondisi pasar yang volatil di kuartal II/2021 ini bukan merupakan hal yang perlu dikhawatirkan.

Setelah memproses 2 IPO pada kuartal I/2021 senilai total Rp1,6 triliun BCA Sekuritas mengatakan sedang memproses calon emiten lain untuk menyusul masuk ke bursa.

“Kami memang sangat selektif untuk emiten-emiten IPO. Insya Allah, apabila situasi pasar modal lebih kondusif maka kami ada 1 IPO lagi di kuartal II/2021,” ungkap Mardy kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, apabila investor memosisikan investasi saham untuk jangka menengah dan panjang seharusnya koreksi pasar saat ini dapat dimaklumi sebagai koreksi yang sehat dan wajar.

“Karena hal ini [koreksi wajar] akan mereduksi potensi resiko penggelembungan nilai valuasi yang terlalu tinggi [asset bubble],” kata Mardy kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Chief Education Officer Marvel Investama John Octavianus Siregar mengatakan volatilitas pasar merupkan bagian dari proses pemulihan pasar pada tahun ini. Dia menilai sejauh ini iklim pasar modal masih sangat mendukung untuk IPO.

“Optimis. Sekarang ini masih early stage pemulihan ekonomi. [Volatilitas] nggak memengaruhi, justru sekarang saat yang tepat untuk IPO karena saat ekonomi pulih rebound pertama itu market, bukan real sector,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia pasar modal ipo pendanaan
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top