Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Teknisi memasang perangkat Base Transceiver Station (BTS) di salah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Premium

Menakar Efek Obligasi Emiten Menara Sandiaga Uno (TBIG)

26 Januari 2021 | 20:53 WIB
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. baru saja meluncurkan obligasi senilai US$300 miliar. Untuk apa dana ini dan akankah berpengaruh ke kinerja saham perusahaan menara milik Sandiaga Uno itu?

Bisnis.com, JAKARTA – Paruh kedua Januari 2021, menjadi masa-masa sibuk bagi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG), emiten menara Grup Saratoga yang terafiliasi dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Sederet laporan aksi korporasi padat merayap menghiasi laman keterbukaan informasi perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp47 triliun tersebut.

Salah satunya adalah pengumuman pelepasan 746,4 juta saham perusahaan oleh PT Provident Capital Indonesia. Dilego dengan harga Rp1.620 per saham dengan tanggal transaksi 10 hari sebelumnya, porsi kecil kepemilikan Provident tersebut ditadah oleh Wakil Presiden Direktur TBIG Hardi Wijaya Liong dan Komisaris Winato Kartono.

Perusahaan juga sempat mengumumkan laporan informasi terkait penerimaan fasilitas pinjaman sebesar US$275 juta dari konsorsium perbankan terhadap entitas anaknya.

Kemudian, pengumuman yang lebih baru dan tidak kalah penting adalah laporan TBIG pada Jumat (22/1/2021), terkait penggunaan surat utang atau obligasi senilai US$300 miliar, atau setara Rp4,48 triliun jika mengacu kurs Bank Indonesia (BI) per 30 September 2020. Diserap oleh 12 pembeli, obligasi tersebut akan memiliki tingkat bunga tetap 2,75 persen per tahun yang akan diangsur 6 bulan sekali, dan jatuh tempo pada 2026.

Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan hasil bersih yang diterima perusahaan setelah dikurangi biaya komisi, emisi, dan lain-lain berkisar US$296,4 juta. Seluruhnya akan digunakan untuk membayar sebagian saldo terutang dari tiga fasilitas pinjaman berulang perusahaan.

Mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), tahun ini, TBIG memang punya 5 surat utang yang akan jatuh tempo dengan akumulasi Rp1,99 triliun. Meski demikian, perusahaan sebelumnya telah menegaskan bahwa seluruh utang tersebut bisa ditutupi pelunasannya menggunakan kas internal.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top