Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Seorang penumpang menonton film menggunakan DVD player portabel di pesawat Delta Air Lines Inc. di Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport di Atlanta, AS, Jumat (17/12/2010). - Bloomberg/Erik S. Lesser
Premium

Historia Bisnis : Ambisi Panasonic Bawa Pemutar DVD ke Indonesia

29 November 2020 | 13:56 WIB
Tepat 24 tahun lalu, Mitsushita Electric Industrial Co, yang kemudian berubah identitas menjadi Panasonic, berjanji membawa pemutar DVD ke Indonesia pada 1997. Sukseskah rencana penjualan barang elektronik tersebut?

Bisnis.com, JAKARTA – Penemuan teknologi Digital Video Disc (DVD) yang kemudian disusul alat pemutarnya pada akhir 1996, menjadi fenomena yang menghebohkan Jepang. Menawarkan kapasitas penyimpanan lebih besar, olah data lebih cepat, dan kualitas serta jangkauan format media lebih baik, DVD seolah menutup setiap kelemahan yang sebelumnya dimiliki teknologi pendahulunya, Video Compact Disc (VCD).

Peluang itu dibaca dengan jeli oleh Mitsushita Electric Industrial Co. (MEI), perusahaan yang seiring berjalannya waktu bertransformasi jadi Panasonic Corporation. Sebagaimana diwartakan Bisnis Indonesia edisi 29 November 1996, tepat hari ini 24 tahun lalu, tak butuh waktu lama bagi perusahaan asal Jepang tersebut untuk membuka pangsa pasar DVD di Indonesia.

Lewat pameran Auditech 98 yang dihelat di Jakarta, 28 November 1996, untuk kali pertama MEI memperkenalkan alat pemutar DVD ke khalayak Indonesia. T. Murakami, Direktur Divisi Sistem Optical Disc MEI saat itu, bahkan menjanjikan jika pemutar DVD akan dijual perusahaannya di Indonesia per Januari 1997.

“Di Indonesia, kami baru akan menjualnya mulai Januari tahun depan,” kata dia.

Tak tanggung-tanggung, untuk mewujudkan ambisi tersebut, MEI berinvestasi senilai 3 miliar yen untuk mendirikan pabrik produksi baru pemutar DVD. Pemutar-pemutar DVD ini ditargetkan untuk pangsa pasar Asia, Eropa, dan bahkan AS pun tak luput dari sasaran.

“Sekitar 70 persen volume produksi pabrik itu akan dialokasikan untuk ekspor. Sedangkan sisanya untuk pasar dalam negeri Jepang,” imbuh Murakami.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top