Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Panen Terhambat La Nina, Produksi Kopi Vietnam Diramal Merosot

Produksi kopi robusta Vietnam diperkirakan berada di kisaran 1,7 juta ton tahun ini, atau turun 6 persen dari periode sebelumnya. Curah hujan yang tinggi akibat fenomena La Nina menyebabkan panen terhambat.
Ilustrasi - Warga memetik kopi Arabika saat perayaan panen massal dalam rangkaian festival panen kopi di Bener Meriah Aceh./Antara
Ilustrasi - Warga memetik kopi Arabika saat perayaan panen massal dalam rangkaian festival panen kopi di Bener Meriah Aceh./Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Siklus cuaca La Nina berpotensi mengganggu produksi biji kopi pada sejumlah negara pengekspor utama seperti Vietnam.

Berdasarkan laporan dari Bloomberg, Senin (19/10/2020), hambatan ini telah ditemukan pada salah satu eksportir kopi terbesar dunia, Vietnam. 

Panen kopi Robusta di Provinsi Dak Lak, Vietnam, umumnya dilakukan pada pertengahan Oktober. Namun, hal tersebut harus diundur karena siklus cuaca La Nina yang memunculkan badai tropis.

Kepala Asosiasi Kopi Buon Ma Thuot di Vietnam, Trinh Duc Minh mengatakan, para petani kopi kesulitan melakukan panen selektif biji kopi karena hujan yang terus menerus terjadi di Vietnam. Pihaknya juga tidak yakin panen besar dapat dilakukan karena potensi munculnya badai tropis di wilayah Vietnam Tengah.

“Hanya 10 persen dari tanaman kopi yang menghasilkan buah matang, jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya dikutip dari Bloomberg.

Kepala Kantor Cuaca di Dak lak, Dang Van Chien mengatakan, musim hujan di wilayah tersebut umumnya berlangsung hingga pekan pertama bulan November.  Namun, akibat pengaruh La Nina, siklus hujan ini dapat berlangsung hingga akhir bulan November.

Ia menambahkan, hujan akan lebih sering dialami pada provinsi yang dekat dengan wilayah pantai. Beberapa contoh wilayah tersebut seperti Dak Lak, Gia Lai, dan Lam Dong.

“Proses panen dan pengeringan biji kopi kemungkinan akan sulit terjadi,” katanya.

Berdasarkan survei yang dilakukan Bloomberg, sebanyak 11 pedagang dan analis mengatakan panen kopi di wilayah dataran tinggi bagian tengah Vietnam umumnya berlangsung pada akhir Oktober atau awal November bergantung pada cuaca. Sementara pemetikan biji kopi berlangsung pada akhir November hingga awal Desember.

Salah satu petani kopi di Provinsi Dak Nong, Nguyen Ngoc Minh, mengatakan buah tanaman kopi sulit matang karena tingkat kelembaban yang tinggi.

“Panen kopi kemungkinan akan tertunda hingga sebulan ke depan,” ujarnya.

Data dari Badan Cuaca Nasional Vietnam menunjukkan,  curah hujan di wilayah dataran tinggi bagian tengah Vietnam kemungkinan akan lebih tinggi 20 persen hingga 40 persen. Adapun, wilayah tengah yang merupakan daerah penghasil kopi Vietnam akan menghadapi empat badai hingga akhir tahun 2020.

CEO Simexco Dak Lak, Le Tien Hung mengatakan, faktor cuaca tersebut akan berdampak pada penurunan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Selain itu, hal ini juga akan menyebabkan berkurangnya pasokan kopi dari eksportir terbesar kedua di Vietnam tersebut.

Sementara itu, data dari Bloomberg menunjukkan, sebanyak 13 analis dan pedagang memperkirakan total produksi kopi robusta Vietnam berada di kisaran 1,7 juta ton, atau turun 6 persen dari periode sebelumnya.

“Penurunan jumlah panen juga akan terjadi karena cuaca yang kering selama masa penumbuhan tanaman kopi,” jelas Presiden J.Ganes Consulting Judith Ganes dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, para petani dan perantara dagang kemungkinan akan membawa stok kopi sebesar 200 ribu ton memasuki masa tanam baru, atau berkurang 50 ribu ton dibandingkan musim sebelumnya. Adapun, gudang-gudang penyimpanan di Ho Chi Minh memiliki stok sebesar 190 ribu ton hingga 30 September 2020.

Data dari bea cukai setempat menyebutkan, pada kuartal terakhir tahun lalu, Vietnam mengirimkan lebih dari 390 ribu ton biji kopi ke berbagai negara.

Laporan dari International Coffee Organization (ICO) pada September 2020 menyatakan, total produksi kopi secara keseluruhan untuk musim 2019/2020 menurun 2,2 persen sebesar 169,34 juta kantong kopi.

Pada periode Oktober 2019 hingga Agustus 2020, angka pengiriman kopi dunia juga terkoreksi 5,6 persen menjadi 116,54 juta kantong kopi. Ekspor kopi Robusta tercatat turun 2,6 persen menjadi 44,61 juta kantong kopi.

Sementara itu, angka ekspor kopi hingga Agustus 2020 tercatat sebesar 10,044 juta kantong kopi. Perolehan tersebut turun 7,5 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Agustus 2019 sebesar 10,86 juta kantong kopi.

“Penurunan ekspor tersebut terjadi seiring dengan kenaikan harga kopi dunia yang tidak dibarengi dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik,” demikian kutipan laporan tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, harga kopi dunia terpantau menurun 2,05 persen di level US$107,25 per pound. Secara year on year, harga kopi bergerak di kisaran US$96,90 hingga US$148,75 per pound.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper