Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja menghitung timah batangan di salah satu pabrik di Kepulauan Bangka Belitung. Bisnis - Endang Muchtar
Premium

75 Tahun Indonesia: Berharap Kilau Emiten Timah (TINS) Kembali Silau

08 Agustus 2020 | 15:25 WIB
Pada semester I/2020, PT Timah Tbk. mencatat rugi Rp390 miliar. Jika perusahan tak segera membalikkan kerugian sehingga sepanjang 2020 tetap merugi, maka dalam 2 tahun terakhir rapor PT Timah Tbk. (TINS) merah. Pada 2019, perseroan tercatat rugi Rp611,3 miliar, dari sebelumnya laba Rp132,3 miliar.

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita dan Dirut PT Tambang Timah, Soedjatmiko baru saja melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha mengenai perkembangan salah satu BUMN tambang, yaitu PT Tambang Timah, yang kelak menjadi PT Timah Tbk. (TINS).

“Sebetulnya konsumsi lebih besar dari suplai. Hanya karena stoknya yang besar, maka stoknya yang dipakai. Tetapi sekarang stoknya makin lama makin menipis sehingga harga dengan sendirinya semakin membaik,” kata Ginandjar, seperti dikutip dari Soeharto.co berdasarkan laporan Antara pada 4 Juli 1988.

Ketika itu, harga timah di pasaran dunia pada 1984 tercatat US$12.500 per ton, sedangkan biaya produksi di Indonesia sekitar kala itu US$10.000 per ton.

Namun, harga barang tambang yang berpusat di Kepulauan Bangka Belitung itu pada 1985 mulai merosot menjadi US$11.500 per ton, walaupun hal tersebut bisa diimbangi dengan penurunan ongkos produksi menjadi US$9.700 per ton.

”Pada 1986, harga rata-rata anjlok menjadi 6.300 dolar AS/ ton,” ujarnya seraya menambahkan justru pada saat itu PT Tambang Timah berhasil meningkatkan produksi menjadi 25.000 ton dibandingkan dengan 22.000 ton pada 1985. Sedangkan pada tahun silam, BUMN ini menghasilkan 28.000 ton, dan tahun ini direncanakan 30.000 ton.

Kekhawatiran Ginandjar dan Soedjatmiko terhadap tren penurunan harga beralasan karena pada Maret 1980, harga timah sempat bertengger di level US$16,900 per ton. Harga kemudian benar-benar merosot ke level US$3.000 per ton pada Oktober 2001.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top