Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap tertutup kabut di Kecamatan Watang Pulu Kabupaten Sindereng Rappang, Sulawesi Selatan, Senin (15/1). - JIBI/Abdullah Azzam
Premium

Emiten Meraup Peluang dari Energi Hijau

03 Desember 2019 | 13:45 WIB
Target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 menjadi peluang bagi perusahaan-perusahaan energi di Indonesia, tak terkecuali yang berstatus perusahaan terbuka.

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo menegaskan Indonesia sudah bersiap mengimplementasikannya meski memang harus bertahap. Dia tak membantah Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama untuk pembangkit listrik. Dalam sebuah kesempatan pada Rabu (20/11), Jokowi menyatakan langkah Indonesia untuk mengganti energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT) sudah berlangsung. Contohnya, Indonesia telah memiliki pembangkit listrik tenaga angin di Sidrap dan tenaga hidro di Mamberamo. Pada 2018, bauran EBT dalam energi nasional baru mencapai 8,6 persen. Tahun ini, angkanya meningkat menjadi lebih dari 9 persen.  Sejumlah emiten energi terbarukan pun terus berekspansi dalam proyek-proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga energi terbarukan, seperti PT Kencana Energi Lestari Tbk. (KEEN) dan PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA). Kencana Energi Lestari misalnya, memproyeksi dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar dua kali lipat pada 2020, seiring dengan langkah ekspansi yang dilakukan perseroan pada tahun ini.

Teknisi mengoperasikan mesin turbin di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok, Dago, Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/10/2018)./JIBI-Rachman Direktur Utama Kencana Energi Lestari Henry Maknawi mengatakan proyeksi tersebut didasari rencana pengoperasian pembangkit listrik berkapasitas 21 megawatt (MW) milik perusahaan yang berada di Bengkulu pada akhir 2019. Dari pembangkit tersebut, KEEN bakal menjual daya yang dihasilkan ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Kontraknya diklaim sedang difinalisasi. “Kontrak itu per tahunnya US$10 juta —US$11 juta, kontraknya selama 30 tahun. Jadi, tahun depan kami punya income akan double dari tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu. Mengacu ke laporan keuangan kuartal III/2019, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar US$19 juta atau sekitar Rp268,47 miliar [kurs Bank Indonesia Rp14.130 per dolar AS]. Pencapaian itu tumbuh 5,11 persen secara year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang senilai US$18,07 juta. Adapun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas 36,68 persen dari US$6,21 juta menjadi US$3,93 juta. Tahun ini, perseroan membidik pendapatan US$26 juta dengan laba bersih sebesar US$10 juta.  Henry menambahkan perseroan tengah melanjutkan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga hidro dengan kapasitas 10 MW yang berlokasi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2021. Nilai investasinya sekitar Rp400 miliar, yang 70 persen di antaranya berasal dari pinjaman perbankan dan 30 persen lainnya dibiayai oleh kas internal perusahaan. “Belanja modal tahun depan Rp200 miliar, jadi kami memerlukan aksi korporasi untuk mendanai investasi itu, mungkin kami akan gunakan loan dulu,” jelasnya. 

KEEN mengaku tak menutup kemungkinan akan mengerjakan pembangkit listrik lainnya pada 2020. Henry mengungkapkan hal ini akan bergantung kepada regulasi yang berlaku. Jika payung hukum untuk bisnis tersebut menjadi lebih baik pada tahun depan, maka perseroan menegaskan bakal lebih ekspansif. Pada awal November 2019, Deputi III Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Bidang Koordinasi Infrastruktur Ridwan Jamaludin mengungkapkan pemerintah tengah menyusun regulasi terkait investasi EBT di Indonesia. Aturan tersebut bakal memperhitungkan keekonomian EBT. 

Menurutnya, ada sejumlah regulasi yang kurang menarik investasi EBT, mulai dari tarif listrik hingga skema perizinan. Bahkan, selama ini, perhitungan keekonomian EBT selalu dibandingkan dengan energi fosil, yang membuat investor sektor ini enggan masuk. 

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top