Fitch Ratings Berikan Peringkat idCCC+ kepada FREN

Penghasilan arus kas perusahaan tidak cukup untuk mendanai modal kerja, belanja modal, dan pembayaran utang. Di sisi lain, perusahaan pun memiliki fleksibilitas yang terbatas karena besarnya risiko kredit yang tinggi.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 19 September 2019  |  13:18 WIB
Fitch Ratings Berikan Peringkat idCCC+ kepada FREN
Pengunjung mencari informasi produk di Gerai Smartfren, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings memberikan peringkat idCCC+ kepada PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) karena memiliki kemampuan membayar beban bunga pada 18 bulan ke depan.

Dikutip dari keterangan resminya, Kamis (19/9/2019), analis utama Fitch Ratings Salman Alamsyah mengatakan tingginya dependensi FREN terhadap pendanaan dari luar. Pasalnya, penghasilan arus kas perusahaan tidak cukup untuk mendanai modal kerja, belanja modal, dan pembayaran utang. Di sisi lain, perusahaan pun memiliki fleksibilitas yang terbatas karena besarnya risiko kredit yang tinggi.

Menurutnya, keadaan tersebut merefleksikan rating idCCC. Namun, dengan pertimbangan kemampuan perusahaan membayar beban bunga hingga 18 bulan ke depan, pihaknya memberikan peringkat idCCC+.

“Peringkat perusahaan ada di 'CCC+(idn)' karena Fitch memperkirakan perusahaan akan memiliki coverage yang cukup untuk membayar beban bunganya untuk 18 bulan ke depan,” ujarnya.

Adapun, beberapa asumsi yang digunakan untuk menetapkan peringkat tersebut yakni pertama, peningkatan basis pelanggan di jaringan. FREN mampu meningkatkan basis pelanggan sebesar 9 juta di 2019 dan proyeksi penambahan 2 juta pelanggan secara tahunan pada 2020 hingga 2022.

Kedua, proyeksi pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenue per user/ARPU) sebesar Rp30.000 pada 2020 hingga 2022. Pada semester I/2019, FREN memiliki ARPU sebesar Rp34.900.

Ketiga, EBITDA margin perusahaan diperkirakan sebesar 17 persen hingga 18 persen pada 2019 hingga 2020 dengan 17,5 persen pada semester I/2019. Terakhir, belanja modal perusahaan pada 2019 diproyeksi sebesar Rp3,7 triliun. Lalu, belanja modal pun akan berada di kisaran Rp1,5 triliun hingga Rp3 triliun pada 2020-2022.

Menurut Salman, perkembangan bisnis perusahaan berikutnya menentukan perubahan terhadap hasil pemeringkatan. Beberapa perubahan yang akan berdampak pada perubahan peringkat yakni kemampuan perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional tanpa bergantung pada penerbitan ekuitas dan penerbitan yang setara ekuitas.

Kemudian, arus kas yang positif, likuiditas yang menurun serta coverage dari rasio beban bunga dan beban sewa yang turun ke bawah 1 kali secara berkelanjutan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smartfren

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top