Data Ritel Positif, Dua Indeks Utama AS Ditutup Menguat

Indeks S&P 500 dan Dow Jones menguat pada perdagangan Kamis (15/8/2019) malam karena data penjualan ritel yang optimis mengimbangi kekhawatiran resesi di tengah ketegangan perdagangan AS dan China.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  06:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -  Indeks S&P 500 dan Dow Jones menguat pada perdagangan Kamis (15/8/2019) malam karena data penjualan ritel yang optimis mengimbangi kekhawatiran resesi di tengah ketegangan perdagangan AS dan China.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) terus berfluktuasi sepanjang perdagangan karena investor mencerna pesan beragam dari data konsumen yang kuat dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average dituutp menguat 99,97 poin atau 0,39 persen ke level 25.579,39, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 menguat 7 poin atau 0,25 persen ke 2.847,6, sedangkan Nasdaq Composite turun 7,32 poin atau 0,09 persen ke level 7.766,62.

Dari 11 sektor utama indeks S&P 500, enam ditutup di wilayah positif, dengan sektor konsumer menikmati persentase kenaikan terbesar.

"Ada saat di mana investor mencerna pergerakan suku bunga dan kurva imbal hasil kemarin," kata Darrell Cronk, kepala investasi untuk Wells Fargo Wealth dan Investment Management, seperti dikutip Reuters.

Walmart Inc mengalahkan estimasi pendapatan kuartal kedua dan menaikkan prospek setahun penuh, mengirim saham pengecer terbesar di dunia ini naik 6,1 persen dan menenangkan kekhawatiran tentang memudarnya permintaan konsumen.

Kekhawatiran tersebut semakin mereda ketika data penjualan ritel melampaui ekspektasi analis. Konsumen, yang menyumbang sekitar 70 persen dari ekonomi AS, meningkatkan pengeluaran mereka di bulan Juli, menurut Departemen Perdagangan.

"Satu hal yang menjadi penyejuk pasar hari ini adalah data ekonomi AS yang lebih baik. Ini membantu menenangkan sejumlah ketakutan dari kemarin," tambah Cronk.

Data ekonomi lainnya kurang optimis. Output manufaktur menyusut melebihi perkiraan pada bulan Juli, menurut data Federal Reserve AS. Sementara itu, klaim baru untuk tunjangan pengangguran berada di atas perkiraan ekonom.

Retorika membuat ketegangan perdagangan AS-Cina pada titik terendah, setelah China bersumpah akan melawan pengenaan tarif impor oleh AS dan meminta AS untuk memenuhi sebagian permintaan AS, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa setiap kesepakatan harus seluruhnya sesuai dengan ketentuan AS.

Eskalasi perang perdagangan yang berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini serta perlambatan pertumbuhan ekonomi telah mengganggu pasar global selama berbulan-bulan dan telah mulai menyeret beberapa perusahaan.

Tarif AS yang akan datang membebani Cisco Systems, yang sahamnya jatuh 8,6 persen setelah melaporkan penurunan 25 persen dalam penjualan di China dan menetapkan perkiraan penjualan dan pendapatan jauh di bawah estimasi analis.

Ketegangan perdagangan juga mengirim imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 ahun AS ke rekor terendah, sedangkan imbal hasil bertenor 10 tahun merosot ke level terendah dalam tiga tahun.

Saham JC Penney Co Inc melonjak 2,2 persen setelah operator department store ini membukukan kerugian kuartalan yang lebih kecil dari perkiraan analis.

Saham General Electric Co turun 11,3 persen karena laporan dari Harry Markopolos yang menuduh perusahaan menyembunyikan potensi kerugian senilai US$38,1 miliar dan mengklaim kondisi keuangannya jauh lebih buruk daripada yang diungkapkan.

 

Tabel pergerakan bursa saham AS
IndeksLevelPergerakan

Dow Jones

25.579,39

+0,39 persen

S&P 500

2.847,6

+0,25 persen

Nasdaq

7.766,62

-0,09 persen

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top