Timur Tengah Dihantui Perang, Harga Minyak Terus Naik

Pada awal perdagangan, harga minyak mentah berjangka jenis Brent berada di level US$73,00 per barel, naik 38 poin atau 0,5%. Naik 3,4% untuk pekan ini, di jalur kenaikan pertamanya dalam tiga pekan.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  14:49 WIB
Timur Tengah Dihantui Perang, Harga Minyak Terus Naik
Bendera Iran berkibar di lapangan minyak Soroush di Teluk Persia, Iran, Senin (25/7/2005), - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia ‘memanas’ pada perdagangan Jumat (17/5/2019), seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan terhadap pasokan.

Pada awal perdagangan, harga minyak mentah berjangka jenis Brent berada di level US$73,00 per barel, naik 38 poin atau 0,5%. Naik 3,4% untuk pekan ini, di jalur kenaikan pertamanya dalam tiga pekan.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$63,32 per barel, naik 46 poin atau 0,4%. WTI juga naik untuk hari keempat dan menuju kenaikan mingguan 2,7%, kenaikan pertama dalam 4 pekan ini.

Sebuah koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman dilaporkan, melancarkan serangan udara di Sanaa yang dikuasai oleh Houthi, Kamis (16/5) waktu setempat. Serangan dilakukan setelah kelompok yang beraliansi dengan Iran itu mengklaim bertanggung jawab atas serangan pesawat tak berawak pada dua stasiun pompa minyak Saudi awal minggu ini.

Di sisi lain, staf kedutaan Amerika Serikat dievakuasi dari kedutaan besar Amerika di Baghdad, sedangkan Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengerahan kelompok kapal induk, pembom B-52 dan rudal Patriot ke Timur Tengah.

Stephen Innes, kepala strategi perdagangan dan strategi pasar di SPI Asset Management mengatakan, ketika ketegangan sudah setinggi ini, dengan AS mengerahkan pasukan militer yang cukup besar, kesalahan sekecil apa pun oleh Iran dapat memicu ledakan konflik di Timur Tengah.

“Ada banyak risiko pasokan [minyak] dengan ketegangan setinggi ini,” katanya dikutip dari Reuters, Jumat (17/5/2019).

Dalam situasi ini, dia menambahkan, harga minyak bisa menguji ke level tertinggi 2019 yang dicapai pada April lalu.

Tiga pejabat AS mengatakan, bahwa Trump sebenarnya tidak mau melibatkan Amerika Serikat dalam perang dengan Iran.

Di samping itu, pasar juga menunggu keputusan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain nasib pemangkasan produksi yang telah mendorong harga lebih dari 30% sepanjang tahun ini.

Pertemuan komite pemantauan tingkat menteri OPEC di Arab Saudi akhir pekan ini diperkirakan, akan menilai komitmen negara-negara anggota untuk kesepakatan mengurangi produksi minyak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top