Rupiah Ditutup Menguat, Apa Saja Faktornya?

Rupiah ditutup menguat ke level Rp14.058 per dolar AS di pasar spot, Jumat (22/2/2019).
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  19:20 WIB
Rupiah Ditutup Menguat, Apa Saja Faktornya?
Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,09% atau 13 poin ke level Rp14.058 per dolar AS, Jumat (22/2/2019), usai bergerak pada kisaran Rp14.053-Rp14.058 per dolar AS.

Penguatan ini diperkirakan berasal dari faktor eksternal.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mencatat rilis data ekonomi AS yang melambat, pemesanan barang modal inti turun 0,7% jauh dari ekspektasi 0,2%, dan indeks bisnis Federal Reserve Philadelphia anjlok ke level negatif 4,1 pada Februari 2019 sebagai faktor penguat rupiah.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu hasil dialog dagang Amerika Serikat dengan China di Washington. Dia mengatakan memang sudah tersiar kabar bahwa kedua pihak menyepakati nota kesepahaman yang secara garis besar mencakup perlindungan terhadap kekayaan intelektual, perluasan investasi sektor jasa, transfer teknologi, pertanian, nilai tukar, dan hambatan non tarif di bidang perdagangan.

"Ternyata perundingan dagang antara tidak selamanya berjalan mulus. Washington dan Beijing masih belum sepakat mengenai detail Memorandum of Understanding (MoU) tersebut," papar Ibrahim dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (22/2).

Di tempat berbeda, notulensi rapat European Central Bank (ECB) menunjukkan bahwa Presiden ECB Mario Draghi dan sejawatnya menyebut banyaknya risiko membuat pertumbuhan ekonomi Benua Biru berpotensi melambat. Pada Januari 2019, ECB memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dan menegaskan bahwa suku bunga masih akan dipertahankan pada level rendah paling tidak hingga pertengahan tahun ini.

Selain itu, Pemerintah Inggris telah menunda pengumuman tentang kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan untuk menghindari serangan balik dari anggota parlemen. Penundaan itu disebabkan oleh kekhawatiran pemerintah tentang bagaimana pengumuman itu akan dilihat oleh anggota parlemen.

"[Perdana Menteri Inggris] Theresa May mencoba membujuk Ketua Komisi Eropa Jean Claude Juncker untuk memodifikasi kesepakatan penarikan dan kemudian mendapatkan perjanjian tambahan melalui parlemen Inggris," lanjutnya.

Dari dalam negeri, Ibrahim mengungkapkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (21/2), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di angka 6%. Artinya, hal tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Namun, sepertinya pasar mencermati komentar-komentar mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Untuk bulan ini, BI sudah benar-benar meninggalkan kata hawkish dalam keterangan tertulis maupun pernyataan dalam konferensi pers," terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, bank indonesia

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top