MNC Sekuritas: SUN Global Berpotensi Melemah Lebih Dalam  

MNC Sekuritas memperkirakan Surat Utang Negara (SUN) cenderung mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (19/9/2018), terutama untuk SUN dengan denominasi dolar AS seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury. 
Emanuel B. Caesario | 19 September 2018 09:35 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan Surat Utang Negara (SUN) cenderung mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (19/9/2018), terutama untuk SUN dengan denominasi dolar AS seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury. 
 
Posisi yield US Treasury pada Selasa (18/9) tercatat sebagai posisi tertinggi sejak 23 Mei 2018. Isu perang dagang AS-China menjadi faktor yang perlu dicermati oleh investor, mengingat AS dan China akan mengenakan tarif terhadap barang impor dari masing-masing negara.
 
AS akan mengenakan tarif sebesar 10% terhadap barang impor dari China senilai US$200 miliar yang akan berlaku sejak 24 September 2018. China siap membalas dengan mengenakan tarif baru terhadap barang impor senilai US$60 miliar dari AS, yang juga akan diberlakukan per 24 September 2018.
 
Dengan mempertimbangkan beberapa faktor tersebut, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra masih menyarankan investor untuk mencermati pergerakan harga SUN di pasar sekunder. 
 
Menurutnya, kenaikan harga dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan aksi ambil untung menjelang pelaksanaan rapat bank sentral AS dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan dilaksanakan pekan depan. 
 
"Kami masih merekomendasikan Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan, di antaranya ORI013, SR009, PBS016, PBS002, FR0031, FR0053, FR0061, FR0043, FR0063, FR0046, FR0070, dan FR0056," sebut Made dalam riset harian, Rabu (19/9).
 
Pada Selasa (18/9), harga SUN bergerak naik didukung menguatnya nilai tukar rupiah menjelang akhir sesi perdagangan.

Kenaikan harga yang terjadi kemarin mencapai 90 bps. Kenaikan ini turut mendorong penurunan imbal hasil antara 2-14 bps dengan rata-rata penurunan sebesar 5 bps. 
 
Imbal hasil SUN dengan tenor pendek mengalami penurunan 2-8 bps dengan didorong kenaikan harga hingga 15 bps. Sementara itu, yield SUN tenor menengah turun hingga 9 bps yang didukung oleh adanya kenaikan harga sebesar 30 bps. 
 
Adapun yield SUN tenor panjang turun antara 3-14 bps dengan didorong oleh kenaikan harga yang berkisar 15-90 bps.
 
Sementara itu, dari pelaksanaan lelang sukuk negara, pemerintah meraup dana Rp4,9 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp8,21 triliun. Jumlah penawaran yang masuk terlihat mengalami penurunan dibandingkan dengan pelaksanaan lelang sebelumnya yang mencapai Rp10,48 triliun.
 
Secara keseluruhan, kenaikan harga SUN kemarin mendorong penurunan yield seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 9 bps di level 8,189% dan tenor 20 tahun sebesar 4 bps di level 8,886%. 
 
Adapun seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 15 tahun mengalami penurunan imbal hasil sebesar 3 bps masing0masing di level 8,347% dan 8,593%.
 
Dari perdagangan SUN dengan denominasi dolar AS, harganya kembali mengalami penurunan terutama pada tenor panjang seiring dengan kenaikan imbal hasil dari US Treasury.
 
Imbal hasil dari INDO43 mengalami kenaikan 2 bps di level 5,106% setelah mengalami penurunan harga 28 bps. Untuk imbal hasil dari INDO23 dan INDO28, relatif tidak banyak mengalami perubahan yakni masing-masing di level 4,104% dan 4,509%.
 
Volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan mencapai Rp9,31 triliun dari 38 seri SBN yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,9 triliun. 
 
Obligasi Negara seri FR0063 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar yakni Rp1,34 triliun dari 69 kali transaksi di harga rata-rata 90,06%. Perdagangan Obligasi Negara seri FR0064 mengikuti dengan nilai Rp1,03 triliun dari 51 kali transaksi di harga rata-rata 86,17%. 
 
Adapun Project Based Sukuk seri PBS015 menjadi sukuk negara dengan volume perdagangan terbesar yaitu Rp420 miliar dari 15 kali transaksi di harga rata-rata 87,27%. Seri PBS005 berada di posisi selanjutnya dengan nilai perdagangan Rp390,58 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 99,78%.
 
Untuk perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp533,37 miliar dari 50 seri obligasi.
 
Obligasi Berkelanjutan III FIF Tahap III Tahun 2018 Seri B (FIFA03BCN3) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp125 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 98,1%. Di posisi selanjutnya yaitu perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap IV Tahun 2016 Seri B (ISAT01BCN4) senilai Rp104 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata-rata 99,61%.
 
Secara teknikal, adanya kenaikan harga yang terjadi pada beberapa hari terakhir telah mengubah arah tren pergerakan harga SUN dari tren turun menjadi tren kenaikan terutama untuk seri-seri dengan tenor hingga 15 tahun. 
 
Untuk tenor di atas 20 tahun, arah pergerakan harganya masih akan mengalami konsolidasi karena belum adanya perubahan bentuk tren pergerakan harga. Secara keseluruhan, harga SUN juga sudah meninggalkan area jenuh jual (oversold).

Tag : surat utang negara, perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top