Borneo Olah Sarana (BOSS) Tetapkan Harga IPO Rp400

Calon emiten pertambangan PT Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS) mematok harga penawaran umum saham perdana senilai Rp400. Artinya, perusahaan berpotensi meraih dana hasil IPO senilai Rp160 miliar.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 08 Februari 2018  |  11:29 WIB
Borneo Olah Sarana (BOSS) Tetapkan Harga IPO Rp400
Direktur Utama PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk Freddy Tedjasasmita (ketiga kanan) berbincang dengan Komisaris Independen Supandi WS (dari kiri), Komisaris Johannes Halim, Komisaris Utama Freddy Setiawan, disaksikan Direktur Widodo Nurly Sumady, dan Direktur Reza Pranata, sebelum penawaran perdana saham perseroan di Jakarta, Rabu (24/1). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Calon emiten pertambangan PT Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS) mematok harga penawaran umum saham perdana senilai Rp400. Artinya, perusahaan berpotensi meraih dana hasil IPO senilai Rp160 miliar.

Manajemen BOSS dalam prospektusnya di harian Bisnis Indonesia menyampaikan, perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham sebanyak 400 juta lembar dengan nominal Rp100. Volume itu mewakili 28,57% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga penawaran ialah Rp400. Adapun, jumlah penawaran umum perdana saham atau IPO secara keseluruhan sebesar Rp160 miliar.

“Harga penawaran saham ini ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan dan negosiasi perseroan dengan penjamin pelaksana emisi efek dalam masa penawaran awal (bookbuilding),” papar manajemen dalam keterbukaan informasi, Kamis (8/2/2018).

Dalam masa bookbuilding, perseroan menawarkan harga di kisaran Rp350—Rp600. Dengan berbagai pertimbangan, harga penawaran ditetapkan senilai Rp400.

Setidaknya ada 10 faktor yang menjadi dasar penetapan harga penawaran. Faktor-faktor tersebut a.l. kondisi pasar saat bookbuilding dilakukan, permintaan calon investor, permintaan dari Quality Institusional Buyer (QIB), dan kinerja keuangan perseroan.

Selanjutnya, data dan informasi mengenai perseroan, penilaian terhadap operasional dan prospek pendapatan mendatang, status perkembangan terakhir perusahaan, faktor penilaian pasar dan usaha sejenis, penilaian berdasarkan rasio P/E, serta pertimbangan kinerja saham di pasar sekunder.

Masa penawaran umum berlangsung selama dua hari kerja pada 9—12 Februari 2018. Adapun, masa penjatahan berlangsung pada 13 Februari 2018.

Penjatahan pasti atau fixed allotment dibatasi sampai dengan 99% dari jumlah ditawarkan. Namun, itu tidak terbatas kepada dana pensiun, asuransi, reksa dana, korporasi, dan perorangan.

Jadwal selanjutnya, tanggal distribusi saham secara elektronik pada 14 Februari 2018. Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 15 Februari 2018.

Penjamin pelaksana emisi efek ialah PT Victoria Sekuritas Indonesia dan PT Mega Capital Sekuritas. Adapun, penjamin emisi efek adalah PT Artha Sekuritas Indonesia, PT Jasa Utama Capital Sekuritas, PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk., PT Phillip Sekuritas Indonesia, PT Erdikha Elit Sekuritas, dan PT KGI Sekuritas Indonesia.

Selanjutnya, PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, PT Profindo Sekuritas Indonesia, PT Valbury Sekuritas Indonesia, PT Indosurya Bersinar Sekuritas Indonesia, PT Lotus Andalan Sekuritas, PT Panin Sekuritas Tbk., PT Shinhan Sekuritas Indonesia.

Sebelumnya, Direktur PT Victoria Sekuritas Indonesia Wisnu Widodo mengatakan, ada 4 poin yang bisa menjadi pertimbangan investor dalam membeli saham BOSS. Pertama, momentum kembali bergairahnya industri batu bara, sehingga kinerja keuangan perusahaan berpotensi meningkat.

Selain itu, momentum IPO pada awal 2018 terbilang tepat karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami periode bullish. Oleh karena itu, BOSS mengejar kesempatan menjadi perusahaan kedua yang melantai di BEI tahun ini.

Kedua, karakteristik produk batu bara perseroan yang premium karena memiliki kalori tinggi di atas 6.000 kilokalori per kilogram (kkal/kg), serta kandungan abu dan sulfur yang rendah.

Ketiga, BOSS baru mengoperasikan 10% dari izin konsensi lahan tambang seluas 16.000. Hal ini penting untuk kelangsungan bisnis perusahaan dalam jangka panjang

Keempat, perusahaan mendapatkan dana dari Pemerintah Jepang melalui Japan Oil Gas Metal Corporation (JOGMEC) pada 2016. Sentimen ini tentunya memberikan persepsi positif bagi calon investor.

“Kami optimistis penyerapan akan bagus. Penawaran dilakukan ke investor domestik dana asing, meski kami melihat investor domestik saat ini lebih dominan,” paparnya setelah acara due diligence meeting dan public expose, Rabu (24/1/2018).

Wisnu menambahkan, proyeksi rerata price to earning ratio (PE) BOSS dalam periode 2018—2019 ialah 3x—5x. Nilai itu lebih rendah dibandingkan emiten sektor sejenis.

“Kami melihat valuasi cukup murah, masih single digit antara 3x—5x,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, sektor tambang

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top