Investment Grade S&P, Yield SUN Diproyeksi Turun ke Level 6,5%

Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menuturkan kenaikan credit soverign rating Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dari S&P Global Ratings bakal membawa lebih banyak arus modal asing masuk ke Indonesia. Dengan potensi tersebut, yield SUN akan turun.
Ana Noviani | 21 Mei 2017 16:50 WIB
Ilustrasi - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Tingkat yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun diproyeksi bakal melandai dari 6,9% ke level 6,5% seiring potensi arus likuiditas ke pasar obligasi nasional pasca kenaikan rating dari S&P Global Ratings.

Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menuturkan kenaikan credit soverign rating Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dari S&P Global Ratings bakal membawa lebih banyak arus modal asing masuk ke Indonesia. Dengan potensi tersebut, yield SUN akan turun.

"Yield surat utang pemerintah tenor 10 tahun mungkin akan turun ke kisaran 6,5% dari level saat ini 6,9%," ungkapnya dalam keterangan resmi, Minggu (21/5).

Tak hanya penurunan yield obligasi, suku bunga bank pun berpotensi untuk turun. Bahkan Bahana Sekuritas memperkirakan yield surat utang maupun suku bunga bank berpotensi menyentuh level terendah pada 2019 apabila kondisi politik dapat lebih terkendali jelang Pemilihan Presiden.

Setelah menanti sekian lama, akhirnya Indonesia mendapat rating investment grade dari lembaga pemeringkat international Standard and Poors. Investment grade dari S&P Global Ratings melengkapi dua lembaga pemeringkat lain yang lebih dulu menyematkan peringkat layak investasi bagi Indonesia, yakni Fitch Ratings dan Moody's Investor Service.

Dalam pernyataaannya, S&P masih membuka peluang untuk kembali menaikkan rating Indonesia. Syaratnya, pemerintah harus melakukan perbaikan signifikan untuk meningkatkan keseimbangan fiskal ke depan.

S&P meyakini pemerintah mampu menjaga defisit fiskal pada level di bawah 2,5% selama kurun 2 hingga 3 tahun ke depan. Dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara  (APBN) 2017, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar 2,41% atau setara dengan Rp 330,2 triliun.

Tag : yield
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top