Harga Minyak Catat Lonjakan Terbesar Sejak Juni

Harga minyak mentah berakhir melonjak pada perdagangan Senin (3/12/2018), ditopang perpanjangan kerja sama antara pemerintah Arab Saudi dan Rusia, meredanya konflik dagang AS-China, serta langkah pemangkasan suplai di Kanada.
Renat Sofie Andriani | 04 Desember 2018 07:39 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah berakhir melonjak pada perdagangan Senin (3/12/2018), ditopang perpanjangan kerja sama antara pemerintah Arab Saudi dan Rusia, meredanya konflik dagang AS-China, serta langkah pemangkasan suplai di Kanada.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari melonjak sekitar 4% atau US$2,02, kenaikan terbesar dalam lebih dari lima bulan, dan ditutup di level US$52,95 per barel di New York Mercantile Exchange, rebound dari penurunan bulanan terburuknya dalam satu dekade.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Februari melonjak 3,8% dan berakhir di level US$61,69 per barel di ICE Futures Europe exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$8,82 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, meskipun Rusia dan Arab Saudi belum mengonfirmasi pemangkasan baru, kerja sama mereka membuka pintu untuk tercapainya kesepakatan ketika Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya bertemu pekan ini di Wina.

Harga minyak mentah telah melorot selama dua bulan terakhir akibat terbebani kekhawatiran kelebihan pasokan global.

Kesepakatan yang terjalin akhir pekan ini antara Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Rusia Vladimir Putin serta merta mendukung ekspektasi pemangkasan produksi yang cukup untuk mengabaikan tanda-tanda yang lebih ambigu pada hari Senin, termasuk pengumuman rencana pengunduran diri Qatar dari OPEC.

“Akan ada pemangkasan [produksi], saya pikir itu akan menjadi lebih dari yang diharapkan pasar, dan saya pikir pasar menyadari itu hari ini,” kata Bob Iaccino, kepala strategi pasar di Path Trading Partners yang berkantor di Chicago.

Harga minyak sempat mengikis penguatannya pada hari Senin setelah panel penasihat OPEC dikatakan tidak membuat rekomendasi untuk tindakan dan sumber terkait dengan perundingan mengungkapkan bahwa Rusia dan Saudi masih belum menyetujui rincian pemangkasan produksi.

Gubernur OPEC Iran Hossein Kazempour Ardebili, sementara itu, menimbulkan keraguan tentang apakah para produsen dapat mencapai suara bulat dalam pertemuan mendatang di Wina.

Namun minyak tetap merespons positif kesepakatan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir pekan kemarin untuk memasuki periode 'gencatan senjata' dalam perselisihan perdagangan mereka.

Sementara itu, provinsi Alberta di Kanada pada hari Minggu (2/12) mengumumkan akan memerintahkan produsen-produsen lokal untuk membatasi produksi sebesar 325.000 barel per hari mulai bulan depan.

“Ini adalah pernyataan-pernyataan positif yang pasar telah nantikan,” kata Ashley Petersen, seorang analis minyak di Stratas Advisors LLC di New York.

“Sekarang setelah kita berada di titik ini, kita akan melihat koreksi harga yang besar. Pertanyaan penting selanjutnya adalah, apakah OPEC akan melakukan tindak lanjut?”

Tag : Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top