Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Karyawati menata produk minuman beralkohol di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (27/7). - Jibi - Dwi Prasetya
Premium

Terancam RUU Minuman Beralkohol, MLBI dan DLTA Masih Bisa Berkelit?

16 November 2020 | 06:29 WIB
Sentimen negatif tengah menghampiri emiten produsen bir dan minuman beralkohol lantaran DPR RI tengan menyiapkan RUU Minuman Beralkohol. Masih mampukan emiten terkait berkelit dari tantangan yang berpeluang mengadang tersebut?

Bisnis.com, JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyiapkan Rancangan Undang-Undang Minuman Beralkohol (RUU Minol). Rencana kebijakan itu pun menuai tanggapan pro dan kontra di masyarakat, tak terkecuali bagi para emiten bir dan minuman beralkohol lain.

Beleid tersebut memuat soal larangan produksi, penyimpanan, peredaran, dan konsumsi minuman beralkohol untuk beberapa jenis seperti minuman beralkohol dengan kadar etanol 1-5 persen, 5-20 persen, dan 20-55 persen. Larangan itu juga berlaku untuk menuman beralkohol tradisional dan campuran atau racikan.

Nantinya, minuman tersebut hanya diperbolehkan untuk kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi, dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundangan. Pihak yang melanggar ketentuan akan dikenakan sanksi hukum pidana berupa penjaran tiga bulan sampai 10 tahun dan denda mulai dari Rp20 juta hingga Rp1 miliar.

Terdapat dua emiten produsen bir, yakni PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MLBI) dan PT Delta Djakarta Tbk. (DLTA) yang berpotensi terdampak dari aturan tersebut. Lantas, sejauh mana RUU Minuman Beralkohol tersebut akan berdampak terhadap emiten industri tersebut?

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan adanya kabar pembahasan RUU Minol tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi emiten industri tersebut. 

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top