Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Suasana pusat perbelanjaan di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Minggu (7/6/2020). Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan pada masa pandemi COVID-19 omzet penjualan peretail hilang 85 persen hingga 90 persen, terutama pada gerai-gerai yang berada dalam mal dan terdampak penutupan akibat PSBB. - ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Premium

Minim Geliat Emiten Ritel Modern

29 Juli 2020 | 20:31 WIB
Pandemi Covid-19 membuat konsumsi masyarakat menurun drastis. Bagaimana dampaknya terhadap emiten ritel?

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati aktivitas bisnis sejumlah pusat perbelanjaan dan ritel modern di berbagai wilayah sudah bergulir seiring dengan masuknya masa transisi kenormalan baru, saham emiten-emiten ritel di Indonesia masih belum menampakkan pergerakan signifikan.

Saham pemilik gerai Alfamart, PT Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) misalnya, ditutup di level Rp745 pada perdagangan Rabu (29/7/2020). Angka ini relatif tak bergerak ketimbang hari-hari sebelumnya, bahkan cenderung turun dibandingkan harga 2 pekan sebelumnya yang sempat mencapai Rp775.

Begitu pula dengan saham perusahaan pemilik gerai Indomaret, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET), atau pemilik Hypermart yaitu PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA). Sementara itu, saham perusahaan lain, PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC) menguat tipis.

Saham DNET berada pada angka Rp3.380 per saham, sama persis dengan torehan sehari sebelumnya. Sementara itu, RANC cenderung mengalami kenaikan walau tak besar, dari Rp338 ke posisi Rp442.

Staf Ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Yongky Susilo mengatakan hingga kini, permintaan terhadap gerai-gerai ritel masih jauh jika dibandingkan pada masa-masa sebelum pandemi Covid-19 datang.

“Industri [ritel] perkembangannya masih negatif, parah. Sempat ada kenaikan karena permintaan frozen food tapi sekarang sudah turun. Dibanding saat masih PSBB [Pembatasan Sosial Berskala Besar] awal, masih mirip. Hanya produk sanitasi dan gel yang masih mengalami permintaan di atas rata-rata,” tuturnya kepada Bisnis, Rabu (29/7).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top